TNGMb, UGM dan UNY Lestarikan Keanekaragaman Flora Gunung Merbabu

Balai Taman Nasional Gunung Merbabu (TNGMb) Dirjen KSDAE Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyelenggarakan In House Training Pengenalan Jenis Flora Taman Nasional Gunung Merbabu, 4-5/3. Dua pakar botani yang diundang adalah Atus Syahbudin, S.Hut., M.Agr., Ph.D. (Fakultas Kehutanan UGM) dan Rio Christy Handziko, S.Pd.Si., M.Pd. (FMIPA UNY). Training bertempat di Rumah Pak Maryono, Dusun Genting, Desa Tarubatang, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali. Saat membuka training, Kepala Seksi Taman Nasional Wilayah I Nurpana Sulaksono, S.Hut., M.T. berpesan khususnya kepada Pengendali Ekosistem Hutan agar bisa mengidentifikasi keanekaragaman hayati (kehati) yang terdapat di wilayahnya, melakukan pengamatan dan menyosialisasikan hasilnya dalam bentuk publikasi sederhana. “Alokasi kegiatan tahun ini supaya dilakukan sesuai yang sudah direncanakan. Usahakan pula mengumpulkan data mumpung UGM bersedia membimbing metode penelitian dan proses publikasinya,” jelas Nurpana.

Flora Khas Gunung Merbabu

Metode penyampaian selama training memakai kelas interaktif di dalam ruangan dan praktek pengenalan jenis pohon di lapangan. Materi kelas bertujuan agar peserta memperoleh penyegaran dan wawasan baru bahwa ekosistem hutan pegunungan memiliki keanekaragaman hayati khas pegunungan. Mengawali training Atus meminta semua peserta berusaha mengenali seberapa kaya kekhasan Gunung Merbabu yang membedakannya dengan hutan pegunungan lainnya.

Read More

“Tridarma saya banyak di hutan pegunungan. Setelah Gunung Sumbing, Slamet, Merapi, Ijen, Lawu, Ungaran, kini Merbabu. Coba Bapak/Ibu tuliskan berapakah jumlah flora dan fauna yang asli Gunung Merbabu, serta lanskap istimewanya,” pinta alumni beasiswa S2-S3 Monbukagakusho Jepang ini. Adapun hasilnya sebagian peserta menuliskan hingga 30 flora khas Gunung Lawu, antara lain: puspa, tengsek, dan kesowo. “Hal tersebut merupakan harta kekayaan yang luar biasa. Belum lagi mata air yang melimpah dan tersedianya udara sejuk. Mari bersama-sama melestarikan jenis-jenis pohon asli Gunung Merbabu,” ajak Atus yang pernah memperoleh hibah penelitian Kemenristek DIKTI di Naturalis Biodiversity Center dan Hortus Botanicus Leiden yang banyak mengoleksi herbarium kehati Indonesia.

Lima Langkah Penyelamatan Kehati Gunung Merbabu

Praktek pengenalan jenis pohon pegunungan di sekitar pintu masuk Taman Nasional Gunung Merbabu, Kabupaten Boyolali
Praktek pengenalan jenis pohon Gunung Merbabu (Sumber: Instagram TNGMb)

Pasca mendapatkan materi di dalam kelas, peserta diminta mempraktekan pengenalan jenis pohon di dekat pintu masuk TNGMb. Mulai dari mencandra perawakannya dari jarak jauh hingga mendeskripsikan morfologi daun dan batang secara rinci, mencermati ciri khas pohonnya serta menimang-nimang nilai penting keberadaan pohon asli tersebut. Upaya pelestarian kehati Gunung Merbabu ini saatnya untuk terus diungkap. TNGMb perlu segera melakukan kegiatan-kegiatan prioritas sebelum musibah kebakaran dan ancaman lainnya kembali terjadi. Menurut Atus ada 5 langkah yang penting diwujudkan, “Lima kegiatan penyelamatan ini adalah (1) Pemetaan jenis pohon asli pegunungan, (2) Penyusunan profil pohon, (3) Pemilihan pohon induk, (4) Pengamatan fenologi jenis pohon prioritas, dan (5) Produksi bibit berkualitas pada beberapa jenis pohon prioritas”.

Training pada hari kedua ditutup dengan arahan dan pemantapan Kepala Seksi terhadap jenis kegiatan beserta nama-nama peserta yang bertanggung jawab melaksanakannya. Beberapa peserta nampak terkesan akan penyelenggaraan training kali ini. Muhibbudin Danan Jaya mengakuinya, “Dendrologi ternyata penting. Baru terasa kalau sudah bekerja di lapangan”. “Publikasi ternyata bisa dengan data yang tidak harus kompleks,” Kiky Hadi Firmansyah mengungkapkannya. Di pihak UGM, Atus pun bersedia membantu membimbing hingga peserta dapat mempublikasikan karya-karyanya demi kelestarian kehati Gunung Merbabu.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *