Sangurejo Menuju ProKlim Lestari, Transformasi Kampung ‘Pak Kumis’ Jadi Gerakan Lingkungan

ProKlim Sangurejo Lestari
Sosialisasi dan ToT Menuju ProKlim Lestari Padukuhan Sangurejo pada Senin (16/9/2024).

Sleman, Jogjakeren.com – Padukuhan Sangurejo, Kalurahan Wonokerto, Kapanewon Turi, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), memiliki cara khas dalam membangun gerakan lingkungan. Berawal dari kawasan yang pernah dikenal sebagai wilayah “Pak Kumis” yang padat, kumuh, dan miskin, Sangurejo bertransformasi menjadi kampung yang mengembangkan pengelolaan lingkungan melalui gotong-royong, pemanfaatan potensi lokal, jejaring lintas sektor, hingga pendekatan ekoteologi.

Kekhasan tersebut kini mengantarkan Sangurejo masuk dalam 32 nominasi ProKlim Lestari 2026. Kampung yang sebelumnya meraih predikat ProKlim Utama tingkat nasional itu dijadwalkan menjalani verifikasi pada 20–21 Agustus 2026 dan berpeluang menjadi lokasi pertama di DIY yang meraih predikat ProKlim Lestari.

Pembina ProKlim Sangurejo, Agus Kurniawan, mengatakan perjalanan tersebut bukan semata-mata dibangun untuk mengejar penghargaan. Menurut dia, capaian Sangurejo merupakan hasil dari proses panjang masyarakat dalam merawat lingkungan sekaligus mengembangkan berbagai potensi yang dimiliki.

Read More

“Alhamdulillah, tahun ini kami mendapatkan kesempatan untuk mewujudkan ProKlim Lestari yang insya Allah menjadi yang pertama di DIY, pertama di Sleman. Ini capaian puncak dari amal saleh kami dalam mengembangkan Program Kampung Iklim setelah melewati banyak kegiatan selama ini,” ujar Agus.

Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) itu menjelaskan, persiapan verifikasi dilakukan secara gotong-royong dengan mempertahankan berbagai praktik baik yang telah tumbuh di masyarakat. Keanekaragaman hayati lokal, administrasi, materi presentasi, pameran, tata lokasi, hingga titik-titik kunjungan dipersiapkan dengan melibatkan berbagai unsur sesuai kapasitas masing-masing.

Dari “Pak Kumis” Menjadi Kampung Berjejaring

ProKlim Sangurejo Lestari
Sudut jalanan di Padukuhan Sangurejo yang tampak bersih dan asri.

Transformasi Sangurejo menjadi kampung lingkungan tidak berlangsung dalam waktu singkat. Kawasan yang dahulu dikenal sebagai wilayah “Pak Kumis” perlahan berubah melalui keterlibatan warga dalam pengelolaan lingkungan, konservasi air, pengembangan desa wisata, pengelolaan sampah, serta berbagai kegiatan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.

Salah satu kekuatan yang membedakan Sangurejo adalah kemampuannya menularkan praktik baik kepada wilayah lain. Dalam proses menuju ProKlim Lestari, Sangurejo telah memiliki 12 lokasi mitra binaan berdasarkan Surat Keputusan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sleman, melampaui ketentuan minimal 10 lokasi mitra binaan.

Ke-12 lokasi tersebut meliputi Padukuhan Kuwang, Gondangan, Banjeng, Nganggring, Parakan Kulon, Kranggan II, Sedogan, Dayakan, Koroulon Lor, Kloposawit, Krasaan, Sindon, dan Plosorejo.

Keberadaan mitra binaan tersebut menunjukkan bahwa gerakan lingkungan Sangurejo tidak berhenti pada batas administratif padukuhan. Pengetahuan, pengalaman, dan praktik adaptasi serta mitigasi perubahan iklim yang berkembang di Sangurejo terus diperluas melalui jejaring masyarakat.

Dosen Fakultas Kehutanan UGM, Atus Syahbudin, mengatakan kemampuan membangun jejaring menjadi salah satu kekuatan utama Sangurejo. Menurut dia, berbagai program lingkungan dapat berkembang karena masyarakat tidak berjalan sendiri, tetapi menggandeng pemerintah, akademisi, peneliti, organisasi kemasyarakatan, organisasi keagamaan, komunitas, hingga berbagai kelompok masyarakat.

“Ini bukan pekerjaan satu orang. Kami punya banyak potensi dan banyak pihak yang selama ini sudah bergerak. Sekarang energi dan semangat itu harus kami satukan untuk menghadapi verifikasi ini. Valuasi keanekaragaman hayati dan sosial Kampung Sangurejo sudah semakin menjulang,” kata Atus yang juga Dosen Program Studi Profesi Kurator Keanekaragaman Hayati (PKKH) Fakultas Biologi UGM.

Mengolah Potensi Lokal Menjadi Gerakan Lingkungan

ProKlim Sangurejo Lestari
Proses pembuatan ecoprint yang dilakukan oleh warga Padukuhan Sangurejo.

Kekhasan Sangurejo juga terlihat dari cara masyarakat mengembangkan potensi yang tersedia di lingkungan sekitar menjadi bagian dari gerakan lingkungan dan pemberdayaan ekonomi.

Salah satunya melalui ecoprint yang memanfaatkan bahan-bahan lokal, termasuk limbah kulit salak. Kegiatan tersebut menjadi contoh bagaimana potensi lingkungan dapat diolah menjadi produk bernilai ekonomi sekaligus mendukung upaya mitigasi perubahan iklim.

Pengembangan ecoprint pada awalnya melibatkan Asosiasi Eco-printer Indonesia (AEPI) DIY dan Biro Pemberdayaan Perempuan dan Kesejahteraan Keluarga (PPKK) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) DIY. Kini, karya ecoprint Sangurejo yang dikembangkan melalui ECSA (Ecoprint & Craft Sangurejo) telah menjadi koleksi Hortus Botanicus Leiden, Belanda, serta mengikuti berbagai pameran tingkat nasional.

Model tersebut memperlihatkan bahwa gerakan lingkungan di Sangurejo tidak hanya berbicara mengenai penghijauan atau pengelolaan sampah. Lingkungan juga dipandang sebagai sumber pengetahuan, kreativitas, pemberdayaan, dan nilai ekonomi bagi masyarakat.

Ketika Menjaga Lingkungan Menjadi Bagian dari Dakwah

Ciri khas lainnya terletak pada keterlibatan organisasi keagamaan dalam membangun kesadaran ekologis masyarakat. Di Sangurejo, isu lingkungan dikembangkan tidak hanya melalui pendekatan teknis, tetapi juga melalui nilai agama dan dakwah.

LDII DIY turut mendampingi penguatan pengelolaan sampah melalui gerakan Kyai Peduli Sampah, Sampah Jadi Jariyah, Jugangan in Omah (Jugangin Om), serta pendekatan Dai ProKlim. Berbagai inisiatif tersebut dikembangkan bersama Komisi Dakwah MUI DIY, Kanwil Kemenag DIY dan Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion (P3E) Jawa.

Pendekatan tersebut kemudian berkembang menjadi ekoteologi, yakni upaya menghubungkan nilai-nilai keagamaan dengan tanggung jawab menjaga lingkungan. Konsep tersebut antara lain berangkat dari fikih lingkungan atau al-bi’ah, amanah, mizan atau keseimbangan, serta larangan melakukan fasad atau kerusakan di muka bumi.

Implementasinya tidak berhenti pada ceramah, tetapi diwujudkan melalui dakwah bil hal seperti penanaman pohon, rehabilitasi lahan, pengelolaan sampah, konservasi air, dan edukasi lingkungan. Dengan pendekatan tersebut, menjaga alam ditempatkan sebagai bagian dari tanggung jawab moral, sosial, dan keagamaan.

Gerakan tersebut bahkan turut menjadi bahan pembelajaran dan inspirasi dalam sedikitnya dua buku, yakni Gerakan Green Islam di Indonesia yang diterbitkan UIN Jakarta dan Dakwah Ekologi: Fikih Lingkungan (Al-Bi’ah) untuk Keberlanjutan Peradaban yang diterbitkan Istana Agency Yogyakarta.

Kampung yang Dibangun Banyak Tangan

ProKlim Sangurejo Lestari
ProKlim Sangurejo mendapat kunjungan dari Universiti Putra Malaysia (UPM).

Jejaring Sangurejo juga tumbuh melalui keterlibatan berbagai perguruan tinggi. UGM, UNY, Stipram, UMBY, Instiper, UIN Sunan Kalijaga, UII, serta sejumlah perguruan tinggi lainnya terlibat dalam pendampingan, penelitian, pengembangan pengetahuan, maupun peningkatan kapasitas masyarakat.

Kolaborasi juga melibatkan Fakultas Kehutanan UGM, P3E Jawa, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan, serta berbagai unsur Gerakan Pramuka seperti Saka Wanabakti, Saka Kalpataru, Saka Pariwisata, dan Saka Bahari.

Sejak tahap perintisan sekitar 2021–2022, Sangurejo mulai menjalankan Program Kampung Iklim bersama Satuan Komunitas Sekawan Persada Nusantara (Sako SPN) dalam bingkai Kampung Pramuka binaan Kwarda DIY. Perjalanan tersebut kemudian mengantarkan Sangurejo meraih Trofi ProKlim Utama tingkat nasional pada 2024.

Kegiatan yang berkembang dari kolaborasi tersebut mencakup penelitian, penanaman pohon, pengolahan sampah, konservasi tanah dan air, hingga pengembangan potensi kawasan sekitar Embung Kaliaji. Sangurejo juga menerima penghargaan sebagai Padukuhan Tangguh Iklim tingkat Provinsi DIY.

Ketua ProKlim Sangurejo, M. Chairul Huda, mengatakan capaian tersebut merupakan buah dari kerja bersama masyarakat dan berbagai pihak, mulai dari pemerintah kalurahan, kapanewon, pemerintah kabupaten melalui Dinas Lingkungan Hidup, hingga akademisi, komunitas, dan organisasi keagamaan.

Menurut Huda, ProKlim Lestari seharusnya tidak dipandang sebagai tujuan akhir. Penghargaan justru menjadi momentum untuk memastikan gerakan lingkungan yang telah tumbuh di Sangurejo terus berjalan dan dapat ditularkan ke wilayah lain.

“Amal saleh ini mari kita perjuangkan bersama. Semua potensi yang ada di kita dan yang sudah pernah kita lakukan mari kita tampilkan semaksimal mungkin. Insya Allah ini menjadi kebanggaan kita semua dan menjadi momentum untuk terus mengembangkan gerakan lingkungan di tingkat DIY maupun nasional,” ujar Huda.

Bagi Sangurejo, perjalanan menuju ProKlim Lestari pada akhirnya bukan hanya cerita tentang sebuah kampung yang berhasil memperbaiki lingkungannya. Ini adalah cerita tentang bagaimana masyarakat mengubah keterbatasan menjadi kekuatan, potensi lokal menjadi karya, jejaring menjadi gerakan, dan nilai keagamaan menjadi aksi nyata untuk menjaga alam.

Jika kelak predikat ProKlim Lestari berhasil diraih, capaian tersebut akan menjadi penanda atas perjalanan panjang Sangurejo. Namun, kekhasan kampung ini justru terletak pada prosesnya: lingkungan dijaga bersama, pengetahuan dibagikan, potensi lokal dikembangkan, dan praktik baik diperluas melalui jejaring agar manfaatnya tidak berhenti di Sangurejo.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *