Wajah Baru Alun-alun Utara, Sejarah dan Filosofinya

alun alun utara
Alun-alun utara sebelum dilakukan revitalisasi (Foto: sindonews.com)

Jogjakeren.com – Alun-alun utara atau dalam Bahasa Jawa disebut Alun-alun Lor merupakan salah satu land mark yang tak bisa dilepaskan dari keberadaan Kota Jogja. Disebut Alun-alun Utara karena di Kota Yogyakarta terdapat dua alun-alun yang letaknya di sebelah selatan dan utara dari Keraton Yogyakarta.

Alun-alun Utara berupa tanah lapang yang berada di depan Keraton Yogyakarta. Berbentuk persegi dengan luas 150 x 150 meter dengan dua pohon beringin besar berpagar yang berada di tengah alun-alun.

Read More

Tempat itu merupakan salah satu bagian dari garis imajiner yang ditarik lurus dari Gunung Merapi, melewati Tugu Jogja, kemudian Alun-alun Utara Yogyakarta, Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Alun-alun Selatan Yogyakarta, Kandang Menjangan, sampai ke Laut Selatan. Oleh karena itu, keberadaannya senantiasa harus dijaga.

Wajah Baru Alun-alun Utara

alun alun utara
Wajah baru Alun-alun Utara (Foto: tribunnews.com)

Dulu, Alun-Alun Utara merupakan pusat keramaian. Banyak orang berkunjung ke sana baik untuk berwisata, berdagang, atau hanya sekadar menikmati hari. Namun kini Alun-Alun Utara tak lagi menjadi tempat yang bisa dipijak oleh sembarang orang.

Setelah bertahun-tahun menjadi tempat umum, kini Alun-Alun Utara dikembalikan seperti zaman dulu. Tempat itu diberi pagar agar orang-orang tidak bisa masuk. Rumput-rumput dipangkas, pasir-pasir ditaburi. Kini tanah lapang itu tampak seperti lautan pasir.

Proyek revitalisasi penggantian pasir di Alun-alun Utara Yogyakarta itu sudah berlangsung sejak Minggu, 3 April 2022 lalu. Saat ini, proyeknya sudah selesai.

Sejarah Alun-alun Utara

Permukaan alun-alun awalnya adalah pasir halus yang digunakan sebagai tempat latihan para prajurit untuk unjuk kebolehan di hadapan sultan. Selain itu tempat itu juga digunakan untuk “tapa pepe” yaitu bentuk unjuk diri dari rakyat agar didengar atau mendapat perhatian dari sultan.

Alun-alun Utara juga merupakan tempat sakral di mana tidak sembarang orang bisa memasukinya. Ada aturan-aturan tertentu bagi mereka yang ingin masuk ke sana seperti tidak boleh menggunakan kendaraan, sepatu, sandal, bertongkat, dan mengembangkan payung. Hal ini dimaksud sebagai wujud penghormatan kepada sultan.

Namun kemudian tempat itu menjadi area publik yang bisa digunakan setiap orang. Para pedagang kaki lima bebas berjualan di sana. Berbagai acara digelar di tempat itu mulai dari konser musik, sirkus, sekaten, dan acara-acara lainnya.

Filosofi Revitalisasi Penggantian Pasir

Tentu bukan tanpa alasan Keraton Yogyakarta melakukan revitalisasi penggantian pasir di Alun-alun Utara Yogyakarta. Ternyata, ada filosofi yang melatarbelakangi upaya tersebut.

Dikutip dari laman resmi Keraton Yogyakarta, pasir lembut yang menyelimuti seluruh permukaan alun-alun merupakan penggambaran atau lambang dari laut tak berpantai. Disebutkan bahwa laut tak berpantai merupakan perwujudan dari Tuhan Yang Maha Tak Terhingga. Karenanya, seluruh permukaan Alun-alun Utara Yogyakarta memang sudah seharusnya ditutup dengan pasir lembut seperti zaman dulu dan juga seperti Alun-alun Selatan Yogyakarta.

alun alun utara
Alun-alun utara saat proses revitalisasi penggantian pasir (Foto: bacajogja.com)

Sementara itu, dua pohon beringin di tengah Alun-alun Utara juga memiliki nama, yaitu Kiai Dewandaru dan Kiai Wijayandaru. Kiai Dewandaru adalah pohon beringin yang terletak di sebelah barat garis sumbu filosofis, sedangkan Kiai Wijayandaru berada di sebelah timur sumbu filosofis.

Secara simbolis, filosofi garis imajiner ini melambangkan keselarasan dan keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhannya, manusia dengan manusia, serta manusia dengan alam. Simbol keselarasan dan keseimbangan hubungan manusia dengan alam termasuk lima anasir pembentuknya, yakni api dari Gunung Merapi, tanah dari bumi Ngayogyakarta, air dari Laut Selatan, serta angin dan angkasa.

Di sisi lain, Kiai Dewandaru dan Kiai Wijayandaru yang mengapit sumbu filosofi Yogyakarta tersebut juga memiliki makna tersendiri. Kiai Dewandaru yang berada di sebelah barat sumbu filosofis, bersama Masjid Gedhe Yogyakarta yang juga berada di sebelah barat sumbu tersebut, menjadi gambaran hubungan manusia dengan Tuhan.

Sementara itu, Kiai Wijayandaru yang berada di sebelah timur sumbu filosofis, bersama Pasar Beringharjo yang juga berada di sebelah timur sumbu itu, menjadi gambaran hubungan manusia dengan manusia.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa keberadaan Kiai Dewandaru, Kiai Wijayandaru, dan lautan tak berpantai yang ditandai dengan pasir lembut di sekelilingnya, merupakan simbol keselarasan dan keharmonisan hubungan antara manusia dengan Tuhan yang Maha Tak Terhingga, serta manusia dengan manusia lainnya.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.