Workshop Kemandirian Ecoprint: Begini Cara Membuat Ecoprint dengan Pengukusan

  • Whatsapp
Hasil pelatihan ecoprint LDII Sinduadi, Minggu (3/10/2021).

Jogjakeren.com – PAC LDII Sinduadi berkerja sama dengan Majelis Taklim Al-Munawarah menggelar Workshop Kemandirian Ecoprint bersama Omah Fatma, Minggu (3/10/2021). Omah Fatma mengajak warga LDII mendayagunakan potensi alam berupa tanaman herbal untuk dijadikan motif pada kain, hijab, sajadah, dan kertas.

Berbeda dengan batik, ecoprint dilakukan dengan mengaplikasikan daun dan bunga di atas kain untuk dijadikan motif. Pada perkembangannya dapat diaplikasikan pada kulit, kertas, dan bahkan ada yang di atas keramik.

Bacaan Lainnya

Teknik pengerjaan yang digunakan ecoprint, di antaranya yaitu pounding (pukul), steaming (kukus), dan boilling (rebus). Dengan boilling, warna atau motif yang dihasilkan akan lebih abstrak sehingga teknik ini sering digunakan di luar negeri.

Hasil yang diperoleh dari teknik pounding akan lebih rapi, tetapi pengerjaan butuh waktu yang lama dan lebih rumit. Sedangkan teknik kukus, hasilnya akan mudah luntur, tetapi dengan metode lebih lanjut akan menghasilkan ecoprint eksplor yang bagus.

Omah Fatma melatih peserta membuat ecoprint dengan teknik kukus fotocopy. Teknik ini menggunakan dua kain sehingga sekali pengerjaan langsung mendapatkan dua hasil lembar.

Gambaran sederhana: Plastik alas – kain – daun – kain – plastik penutup – gulung seperti lontong dan diikat – masuk alat pengukus yang sudah mendidih airnya dan kondisikan api sedang + air cukup untuk mengukus 2 jam.

Sebelum digunakan kain harus dibersihkan dulu dengan air lalu diperas sampai kering. Setelah diberi plastik penutup, kain dipres dengan penggilas atau diinjak –injak agar tulang – tulang daun bisa flat ke kain.

Dengan pengukusan ini, corak dan warna dari daun dan bunga akan keluar. Daun yang akan muncul warna berasal dari 90% tanaman herbal.

Setelah daun yang menempel dibersihkan, angin – anginkan kain hingga kering selama 1 minggu di tempat teduh. Setelah 1 minggu kain tersebut dapat dikunci dengan zat pengunci yang dipilih (fiksasi).

Warna yang dihasilkan oleh daun atau bunga tersebut dapat menurun +/- 25% setelah proses penguncian/fiksasi. Sehingga pemilihan fiksator yang cocok akan menjaga hasil tetap baik. Kemudian dibilas dan dijemur di tempat teduh hingga kering.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *