Yogyakarta, Jogjakeren.com – Keterbatasan ekonomi tak menyurutkan langkah Andromeda Sufi Anggoro mengejar cita-citanya kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB). Di balik perjuangan itu, sang ayah, Basuni Yusuf, memilih menanamkan kedisiplinan ibadah dan kemandirian sebagai bekal utama bagi anaknya.
Basuni yang sehari-hari berjualan kelapa parut sekaligus menjadi pengemudi ojek online mengaku tidak banyak menuntut anaknya dalam pendidikan formal. “Saya memang menekankan pada ngajinya. Yang saya tanyakan itu salatnya sama ngajinya,” ujar Basuni.
Sejak 2000, Basuni menggantungkan penghasilan dari berjualan kelapa parut di pasar. Pada 2025, ia menambah pekerjaannya sebagai pengemudi ojek online menggunakan Bajaj MaxRide, sementara usaha kelapa parut tetap dijalankan dengan bantuan sang istri.
Menurut Basuni, ia tidak pernah memaksa Andromeda memilih jurusan atau perguruan tinggi tertentu. Ia hanya berpesan agar ibadah dan mengaji tetap tertib karena menurutnya kedisiplinan tersebut akan menjadi dasar bagi kehidupan anaknya.
“Kalau ngajinya tertib, nanti urusan yang lain juga tertib. Saya lebih memperhatikan ngajinya karena saya percaya kalau itu tertib, sekolahnya juga mudah-mudahan bisa lancar,” katanya.
Keinginan Andromeda untuk kuliah di ITB ternyata sudah muncul sejak duduk di kelas 1 SMA. Ketertarikannya semakin kuat karena ia ingin mempelajari astronomi, bidang yang menurutnya belum tersedia di perguruan tinggi yang lebih dekat dengan tempat tinggalnya.
Sebelum akhirnya diterima di ITB, Andromeda sempat menjalani kuliah di Yogyakarta selama satu tahun. Keputusan tersebut diambil untuk menghormati kondisi ekonomi keluarga, mengingat biaya hidup di Bandung dinilai lebih berat bagi keluarganya.
“Dia itu ngelegani orang tua kuliah di Yogyakarta. Jadi selama setahun itu dia menjalankan ridho orang tua,” ujar Basuni.
Namun, keinginan Andromeda untuk kuliah di ITB tidak pernah benar-benar hilang. Pada 2026, ia kembali mengikuti seleksi dan akhirnya dinyatakan diterima di ITB.
Basuni mengaku sempat bimbang ketika mengetahui anaknya diterima di ITB. Ia khawatir tidak mampu membiayai kebutuhan kuliah dan hidup Andromeda di Bandung, meskipun akhirnya tetap memberikan izin dan membayar uang kuliah tunggal (UKT) sebesar Rp1 juta menggunakan uang yang saat itu dimilikinya.
“Waktu UKT-nya keluar sebesar Rp1 juta, kebetulan saya pegang uang Rp1 juta. Langsung saya bayar, saya transfer ke ITB,” tuturnya.

Di tengah keterbatasan tersebut, jalan lain kemudian terbuka. Keluarga Andromeda mendapat tawaran beasiswa dari Paragon, setelah sebelumnya keluarga berencana mencari berbagai peluang beasiswa untuk menunjang kebutuhan kuliahnya.
Bantuan tersebut turut meringankan beban keluarga. Andromeda memperoleh beasiswa biaya hidup Rp1,6 juta, hadiah laptop, serta fasilitas asrama, sementara Basuni mendapat bantuan Rp5 juta untuk mengganti biaya perjalanan saat mengantar anaknya ke Bandung.
Meski mendapatkan tawaran fasilitas asrama ITB, Basuni dan Andromeda tetap memilih tinggal di PPM karena tempat tersebut sudah menjadi bagian dari rencana pendidikan Andromeda. Menurut Basuni, kesempatan tinggal di PPM juga merupakan salah satu hal yang sejak awal ingin diwujudkan anaknya.
Bagi Basuni, keberhasilan Andromeda masuk ITB bukan semata-mata hasil dari dorongan orang tua. Ia justru melihat perjalanan tersebut sebagai buah dari kesabaran anaknya menjalani keinginan orang tua selama setahun sekaligus tetap mengejar cita-citanya.
“Dia sudah memendam selama setahun keinginannya ke ITB. Mungkin itulah ridho orang tua. Dia melegakan ridho saya, kemudian oleh Allah digabungkan pada tahun berikutnya,” ujarnya.
Basuni juga menilai kemandirian menjadi salah satu karakter kuat Andromeda. Sejak kecil, anaknya terbiasa belajar sendiri dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi soal, terutama matematika.
“Kalau belum dapat jawabannya, tetap diutak-atik sampai bisa. Dia tidak pernah mau menyontek karena ingin benar-benar mengerti kemampuannya,” kata Basuni.
Kebiasaan tersebut juga terbawa dalam penggunaan teknologi. Saat pandemi Covid-19, Andromeda mendapatkan telepon genggam untuk mendukung pembelajaran, tetapi mampu mengatur waktu penggunaannya dan memanfaatkannya untuk mencari bahan belajar.
Basuni mengaku tidak banyak mengajari pelajaran sekolah kepada Andromeda karena kesibukannya bekerja. Ia lebih memilih memastikan anak-anaknya tertib salat dan mengaji, sementara urusan akademik diserahkan kepada kemauan dan kemandirian mereka.
“Kalau urusan belajarnya dia memang mandiri. Saya tidak mampu mengajarinya karena pelajaran sekarang berbeda dengan zaman saya. Jadi yang bisa saya kuatkan adalah ngajinya,” ujarnya yang juga aktif mengaji di LDII Kota Yogyakarta.
Kini, Basuni berharap Andromeda dapat menyelesaikan pendidikan di ITB dengan baik dan melanjutkan studi hingga jenjang yang lebih tinggi. Ia juga berpesan agar anaknya tetap memegang prinsip agama dan menerima setiap proses kehidupan dengan lapang.
“Kalau kamu menolong agama Allah, pasti ditolong oleh Allah. Kalau nanti menemukan sesuatu yang tidak sesuai keinginanmu, berarti itu qadar Allah. Terima saja, jangan kecewa,” pesan Basuni.





