Bukan Kebiasaan Buruk, Apa Itu Dermatillomania? Psikolog Ungkap Gejala dan Terapinya

Dermatillomania
Ilustrasi Pengidap Dermatillomania (sumber gambar: freepik)

Jogjakeren.com – Sering mengelupas kulit, menggigit kuku, atau mencabuti rambut adalah kebiasaan yang umum ditemukan. Namun, bagaimana jika kebiasaan menggaruk dan mengupas kulit sampai berdarah dan menyebabkan luka menjadi sulit dikendalikan? Kondisi ini dikenal dengan nama Dermatillomania atau Skin-Picking Disorder. Ini tidak hanya kebiasaan buruk, namun kondisi kesehatan mental yang serius dan tergolong dalam gangguan berulang yang berfokus pada tubuh atau BFRB (Body-Focused Repetitive Behavior). Kondisi ini bisa menimbulkan luka fisik dan tekanan emosional yang signifikan bagi penderitanya.

Menurut American Psychiatric Association (APA), Dermatillomania adalah gangguan yang ditandai dengan dorongan kompulsif untuk mengorek, menggaruk, atau mengupas kulit secara berulang. Dorongan ini tidak bisa ditahan, meskipun penderitanya sudah berusaha menghentikannya. Tindakan ini bisa dilakukan pada bagian tubuh mana pun, namun yang paling sering adalah wajah, lengan, dan tangan. Meskipun beberapa orang melakukannya untuk menghilangkan ketidaksempurnaan kulit, seperti jerawat, tindakan ini sering kali bukan untuk tujuan estetika. Justru dorongan itu muncul sebagai respons terhadap kecemasan, kebosanan, atau perasaan tegang yang mendalam.

Gejala utama Dermatillomania meliputi dorongan berulang untuk mengupas kulit yang menyebabkan luka pada kulit. Penderita sering kali berusaha menyembunyikan luka-luka ini dengan pakaian atau riasan. Aksi ini sering kali didahului oleh perasaan tegang, dan diikuti oleh sensasi lega atau kepuasan sesaat. Namun, perasaan ini dengan cepat digantikan oleh rasa malu, bersalah, atau penyesalan. Siklus ini sulit dipecahkan tanpa bantuan profesional. Sebuah studi yang dipublikasikan di Journal of Behavioral Medicine menemukan bahwa individu dengan Dermatillomania memiliki tingkat stres dan depresi yang lebih tinggi.

Read More

Untuk mengatasi Dermatillomania, para psikolog menyarankan beberapa jenis terapi. Terapi Perilaku Kognitif (CBT) adalah salah satu pendekatan yang paling efektif. Terapi ini membantu penderita mengidentifikasi pemicu dari dorongan mengupas kulit dan mengajarkan mereka strategi untuk merespons dorongan tersebut dengan cara yang lebih sehat. Contohnya adalah dengan mengganti perilaku mengupas kulit dengan aktivitas lain, seperti meremas bola stres atau menempelkan plester pada jari. Selain itu,

Terapi Penerimaan dan Komitmen (ACT) juga dapat membantu penderita menerima dorongan tersebut tanpa harus bertindak. Dalam kasus yang parah, psikiater mungkin meresepkan obat antidepresan untuk mengurangi kecemasan atau depresi yang sering menyertai kondisi ini. Dengan diagnosis yang tepat dan penanganan yang konsisten, penderita Dermatillomania dapat belajar mengelola gejalanya dan meningkatkan kualitas hidup mereka.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *