Bupati Ajak LDII Sleman Cegah dan Turunkan Angka Stunting

  • Whatsapp
Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo saat membuka Musda VII DPD LDII Kab. Sleman (Minggu, 5/12/2021)

Jogjakeren.com – Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo menyadari bahwa pencapaian dan pelaksanaan program yang baik memerlukan peran serta berbagai pihak. “LDII Sleman telah banyak bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Sleman. Saya mengajak LDII untuk turut membantu mencegah dan menurunkan angka stunting (di Sleman). Tahun ini masih ada 6,9% kasus stunting,” ujarnya saat membuka acara Musyawarah Daerah VII DPD LDII Kab. Sleman, pada Minggu (5/12/2021).

Lebih lanjut, Kustini mengaku telah lama bekerjasama dengan persatuan ibu-ibu dan remaja putri LDII pada berbagai program, bahkan sebelum ia menjadi Bupati. Mengamini hal tersebut, Ketua terpilih DPD LDII Sleman menekankan pentingnya sinergitas program. “Kami (LDII) akan terus melihat program-program apa yang memungkinkan untuk dikerjasamakan dengan pemerintah (Kabupaten Sleman),” tandas Suwarjo, S.IP., M.Si.

Bacaan Lainnya

Bagaimana Kondisi Kasus Stunting di Sleman?

Menurut data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sleman, angka stunting di Sleman mengalami perbaikan. Pada tahun 2019, kasus stunting tercatat 8.38%, kemudian turun menjadi 7.24% pada tahun 2020, lalu pada tahun 2021 turun lagi menjadi 6,92%.

Meskipun angka kasus stunting berangsur menurun, stunting masih menjadi pekerjaan rumah untuk Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman. Stunting adalah kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis. “Kondisi ini mengakibatkan perkembangan anak lebih lambat dibandingkan usianya,” kata dr. Cahya Purnama, Kepala Dinkes Sleman, Selasa (16/11/2021).

Stunting menyebabkan kegagalan pertumbuhan anak (Sumber: rsudmangusada.badungkab.go.id)

Dilansir dari laman HarianJogja, tingginya angka stunting dimungkinkan karena anak balita tidak memiliki jaminan kesehatan, anggota rumah tangga anak masih merokok, ibu balita sewaktu hamil kekurangan energi kronis, serta anak balita belum imunisasi lengkap.

Dalam rangka penurunan angka stunting, pemerintah menerbitkan Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 38 tahun 2015 tentang Inisiasi Menyusui Dini dan Pemberian Air Susu Ibu Eksklusif. Aturan ini diperkuat dengan adanya Peraturan Bupati (Perbup) Nomor 27 tahun 2019 tentang Program Percepatan Penanggulangan Balita Stunting.

Selain itu, Pemkab telah melansir berbagai inovasi kebijakan dan gerakan, di antaranya Gerakan Tanggulangi Anemia Remaja dan Thalasemia (Getar Thala), Pelayanan Antenatal Care Terpadu Menuju Triple Eliminasi pada Semua Layanan (Pandu Teman), Pencegahan pada Rawan Stunting (Pecah Ranting), dan Gerakan Ajak Menimbang Cegah dan Atasi Stunting (Gambang Stunting).

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.