Wayang Sebagai Potret Ajaran Kepemimpinan

kepemimpinan dalam jawa
Wayang adalah sumber ajaran kepemimpinan Jawa. (sumber ilustrasi: kompasiana.com)

Jogjakeren.comWayang merupakan pancaran ajaran kepemimpinan Jawa. Di dalam pertunjukan wayang, sering melukiskan satuan moral dan identitas sosial. Kesadaran antara yang memimpin dan dipimpin diolah dan dikreasi oleh penghayatan dalang.

Jatman (dalam Endraswara, 2017:87) menyatakan bahwa wayang adalah gambaran simbolik ketika orang Jawa mencari makna kehidupan. Lakon-lakon wayang melukiskan bagaiamana hidup ini dijalankan.

Berbagai tokoh wayang mempresentasikan pribadi seorang pemimpin bangsa. Tidak hanya tokoh yang menjadi raja, melainkan sebagai prajurit, pendeta, punakawan, satria, dan sebagainya adalah pemimpin. Masing-masing tokoh memiliki wajah, cara bicara, cara berjalan, dan sejumlah tindakan kepemimpinan.

Bacaan Lainnya

Dalam kehidupan orang Jawa selalu ada strata. Orang yang dihormati, dalam wayang pun dijadikan acuan pimpinan. Biasanya tokoh pendeta, resi, raja, Begawan adalah figur sesepuh yang dalam ideologi Jawa harus dihormati (disubya-subya). Mereka itu oleh orang Jawa disebut pepundhen. Apabila para bawahan berani menentang, secara ajaran bawahan dianggap dosa (duraka), bahkan suatu saat akan mendapatkan kuwalat.

kepemimpinan dalam jawa
Baladewa dan Kresna (sumber: newenjang.blogspot.com)

Antara Prabu Baladewa dan Prabu Kresna yang sama-sama saudara sekandung, memiliki kekhasan dalam memimpin negaranya. Keduanya kadang menunjukkan figur kepemimpinan yang bertolak belakang, yang satu keras dan mudah marah, yang satunya lagi lebih bijak.

Jika menonton wayang purwa, baik yang dipagelarkan semalam suntuk maupun yang dipagelarkan dalam bentuk pakeliran padat. Maka jika direnungkan benar-benar didalamnya terdapat banyak nilai serta ajaran kepemimpinan yang berguna.

Filosofi kepemimpinan dalam wayang disampaikan secara simbolik dalam berbagai lakon, misalnya Sembadra Ratu, Gatutkaca Ratu, Ontosena Ratu, Baging Ratu, Wahyu Cakraningrat, dan sebagainya.

Secara gampang, bila diperhatikan simpingan wayang, maka telah terbentuk falsafah simbolik kepemimpinan Jawa. Simpingan kanan melambangkan seorang pemimpin yang baik, simpingan kiri melambangkan tokoh yang jelek atau buruk.

Jika simpingan tidak salah, berarti tokoh di sebelah kanan dalang, andaikata dimainkan sebagai pimpinan adalah tokoh yang berkepribadian pemimpin yang lurus. Adapun tokoh yang disebelah kiri, biasanya berwajah merah, korupsi, nepotisme, dan segala wujud diktator.

Wayang adalah sumber ajaran kepemimpinan Jawa. Dunia wayang banyak menawarkan pilihan hidup. Konfrontasi selalu ada dalam wayang, begitu pula dalam kehidupan sehari-hari. Manusia Jawa selalu hidup dalam segmen konfrontasi. Tapi ada yang mampu mengelola konfrontasi, hingga tidak meledak menjadi sebuah peperangan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *