Jadi Landmark Yogyakarta, Selokan Mataram Riwayatmu Kini

Selokan Mataram
Selokan Mataram (Foto: kompas.com)

Jogjakeren.comSobat Jogker, siapa yang pernah menjelajahi jalur Selokan Mataram di Kabupaten Sleman? Saluran ini membentang kokoh sepanjang 31,2 kilometer di antara sungai Progro dan sungai Opak.

Selokan Mataram adalah saluran irigasi yang dibuat pada masa penjajahan kolonial Jepang. Selokan Mataram atau Kanal Toshiro ini sekaligus menjadi Monumen ‘Tahta untuk Rakyat’ peninggalan masa kepemimpinan raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan Hamengkubuwono IX.

Read More

Kanal Toshiro dibangun atas lobbying politik yang dilakukan Sri Sultan HB IX untuk melindungi rakyatnya dari kerja paksa romusa. Dengan keberhasilan lobbying ini, keraton akhirnya membangun fasilitas aliran sungai untuk meningkatkan kesejahteraan rakyatnya.

Selokan Mataram dibangun untuk mengairi area persawahan dan ladang petani, terutama di bagian utara Yogyakarta supaya tetap produktif sepanjang tahun. Pada masa itu, wilayah pertanian Yogyakarta cenderung gersang dengan hasil pertanian yang sangat minim. Sehingga, pembagunan ini dirasa dapat membawa kemakmuran dan mendorong kemandirian warga Jogja yang dapat dirasakan sampai sekarang.

Namun, nampaknya sejarah ini mulai dilupakan bahkan tidak disadari oleh sebagian besar masyarakat Jogja maupun masyarakat luar yang menetap di Jogja untuk sementara waktu.

Saat ini, banyak tatanan kota dan pemukiman yang didirikan di sekitar wilayah Selokan Mataram, menyusul pentingnya sumber air dalam kehidupan manusia. Namun faktanya, saluran irigasi ini kini justru menjadi tempat penumpukan limbah, baik limbah industri mapun rumah tangga. Tentu ini menjadi sebuah ironi. Praktik pembuangan limbah secara langsung ke badan air dapat menurunkan kualitas air dan nilai guna Selokan Mataram secara umum. Bahkan, menghilangkan nilai sejarah yang ada.

Hal ini mendorong perlunya peningkatan kesadaran lingkungan, serta upaya lainnya untuk menjaga nilai guna dan sejarahnya. Selokan Mataram dapat dijadikan sebagai media edukasi berbasis lingkungan hidup, tempat pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), bahkan tempat wisata. Pemerintah setempat dapat menciptakan berbagai jenis wisata, baik dengan melibatkan kontak langsung dengan air maupun tidak. Tentu, hal ini perlu ditunjang dengan pembangunan sarana prasarana pendukung wisata.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.