jogjakeren.com – Mahasiswa dari luar DIY yang mengambil kuliah di Jogja pada umumnya memilih tinggal di kos, kontrakan, apartemen dan sejenisnya. Namun, ada pula yang memilih tinggal di Pondok Pesantren Mahasiswa (PPM). PPM dan kuliah sama-sama memiliki kegiatan yang padat, mahasiswa harus pintar dalam membagi waktu agar keduanya berjalan beriringan.
Begitu pula yang dialami mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta yang memilih tinggal di PPM Ar Royyan Baitul Hamdi, Eka Arief Setyawan. Ia mengatakan, membagi waktu antara PPM dan kampus awalnya tak cukup mudah. Sebab kesemuanya memerlukan adaptasi serta penentuan keputusan yang jelas. “Berangkat dari pengalaman sebelum kuliah yang juga sering terseok-seok oleh jadwal. Saya akhirnya dapat sedikit mengimbangi dua kegiatan rutin yang berdampak besar di masa depan itu, sehingga tak ada satupun yang dikorbankan secara besar-besaran,” paparnya.
Eka melanjutkan, awalnya ia termasuk mahasiswa yang sulit membagi waktu, sering keteteran, dan juga terlambat datang pada suatu acara. Hal itu berlangsung di awal waktu sebagai mahasiswa pada 2015, yang saat itu ada dua kegiatan besar yang mau tak mau harus dipegang beriringan. Yakni PPM dengan jadwalnya yang begitu padat, begitu pun kampus yang sama beratnya pula.
“Tetapi saat itu, saya telah menetapkan diri saya, bahwa saya akan lebih fokus ke pondok, yang konsekuensinya adalah mengorbankan kampus. Meskipun nyatanya yang terkorbankan hanya seputar lingkar pertemanan dan link proyek, sedangkan kegiatan perkuliahan sama sekali tidak,” ungkapnya.
Penentuan prioritas

Hingga akhirnya, sejak 2015 hingga sekarang, ia selalu menomorsatukan kegiatan di PPM, dan menaruh urusan kampus di prioritas selanjutnya. Alasannya, karena kegiatan kampus mayoritas diadakan pagi hingga sore hari, sedangkan kegiatan PPM sering berlangsung pada waktu malam dan subuh. Maka kegiatan kampus yang berlangsung pada malam hari misalnya, jika benar-benar penting, barulah ia meminta izin ke PPM.
Begitu pula dengan keikutsertaan pada Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di kampus. Ia selama ini hanya mengikuti satu organisasi saja, yakni organisasi pers mahasiswa (persma) PRESSISI ISI Yogyakarta. “Itupun saya juga bersyukur, sebab dapat mengikuti satu-satunya organisasi yang memang sejalan dengan visi saya. Karena jadwalnya yang tak berbenturan dengan pondok. Yakni pertemuan wajibnya pada tiap Jumat malam, yang bersamaan pula tak ada jadwal apa pun di PPM alias libur,” terang Eka.
Menurutnya, urusan akhirat jauh lebih penting prioritasnya, pun dampak terbesarnya. PPM tidak hanya melatihnya untuk mengumpulkan ilmu serta amalan demi kepentingan kehidupan setelah di dunia. “Tetapi juga memberi dampak signifikan bagi saya, khususnya seputar lingkar pertemanan yang jauh “lebih aman”, serta lebih produktif. Karena segala hal lebih mudah dijangkau dari pondok (lokasi berada di tengah kota Jogja), daripada harus ke kampus yang berlokasi di Bantul,” papar Eka yang mengambil jurusan Film dan Televisi.
List jadwal dan tugas

Selain itu, ia juga sering mengandalkan jadwal buatan sendiri yang biasanya ia tulis pada sebuah kertas kecil, setelah itu ia sisipkan pada laptop. Jadwal itu berfungsi untuk mengingatkannya akan jadwal-jadwal atau pekerjaan yang harus dilakukan. Serta memberi respon positif terhadap pikiran ketika salah satunya berhasil diselesaikan, yang biasanya ia tandai dengan coretan berwarna merah.
“Biasanya tak hanya jadwal, tapi lebih pada rentetan tugas yang harus diselesaikan, karena dulu pada awal kuliah, saya sempat memiliki dua jadwal khusus. Pertama memang jadwal yang berisi agenda kegiatan -biasanya saya gantung di dinding meja belajar-, serta jadwal tugas berikut deadline-nya, yang saya sisipkan di laptop. Tetapi semakin ke sini, saya yang sudah memasuki masa akhir perkuliahan, justru perlahan meninggalkan jadwal agenda kegiatan tersebut. Sebab mungkin fokus saya pada acara-acara lintas lokasi sudah mulai berkurang. Tetapi sebaiknya memang harus selalu dipertahankan sih, agar tak ada satupun acara yang terlewat atau bertabrakan,” kata Eka.
Terakhir, ia tetap berharap bahwa apa yang menjadi misinya saat ini dapat terselesaikan dengan sukses, baik urusan pondok maupun kampus. “Sehingga tujuan yang telah dibentuk sejak lama, dapat segera dirampungkan secara nyata. Sebab sudah tanggung jawab moral serta keputusan saya sebagai manusia, baik terhadap Allah SWT -urusan akhirat- dan juga terhadap manusia lain -urusan dunia-,” pungkasnya.





