Menelusuri Sejarah Masjid dan Ponpes, Sako SPN DIY Adakan TPPD

Sako SPN DIY
Sako SPN DIY menyelenggarakan TPPD dengan konsep napak tilas dengan menempuh jarak 11 km, Sabtu (24/6/2023).

Jogjakeren.com – Satuan Komunitas Pramuka Sekawan Persada Nusantara (Sako SPN) DIY menyelenggarakan Temu Penegak dan Pandega (TPPD) Sako SPN DIY dengan konsep Napak Tilas, Sabtu (24/6/2023). Kegiatan ini berlangsung selama dua hari berturut-turut dan menyelusuri jalan sejauh 11 km dari Ponpes Mulya Abadi sampai Embung Kaliaji, Sangurejo.

Ketua Sako SPN DIY, Kak Sarjita, M.T., LMT., mengungkapkan bahwa TPPD ini merupakan program kerja Sako SPN DIY terkait dengan pembinaan karakter dan kemandirian. “Program ini bertujuan untuk mengajak adik-adik menelusuri sejarah masjid dan pondok pesantren (ponpes) sehingga mereka punya cerita di tempat (kabupaten/kota) masing-masing,” kata Kak Sarjita.

Sako SPN DIY
Kak Sarjita (tengah), Kak Arif (kanan), Kak Tri (kiri)

Wakil Ketua Bidang Pembinaan Anggota Muda Kwartir Daerah (Waka Binamuda Kwarda) DIY, Kak Drs. Arif Budiharjo, turut hadir dalam kegiatan ini sekaligus membuka pelepasan napak tilas. “Keren, saya kira ini bagus untuk penghayatan bagi adik-adik mengenal lebih dekat dengan Sako SPN di daerah mana saja,” kata Kak Arif dalam menanggapi kegiatan TPPD.

Read More
Sako SPN DIY
Kak Arif membuka pelepasan Napak Tilas

Senada dengan tanggapan tersebut, Waka Binamuda Kwartir Cabang (Kwarcab) Sleman, Kak Tri Muryati turut menambahkan bahwa kegiatan ini mewujudkan maju dalam kebersamaan. Hal ini dilatarbelakangi karena TPPD mempertemukan penegak Sako SPN dari 5 kabupaten/kota se-DIY.

“Saya melihat kegiatan tadi, adik-adik sangat antusias, mantap,” kata Kak Tri.

Sako SPN DIY
Kak Tri (kiri) mengapresiasi antusias dari para penegak Sako SPN DIY

Dalam perjalanan menuju Embung Kaliaji, penegak Sako SPN DIY berhenti sejenak di Masjid Baitul Mutahar untuk mendapat pembekalan mengenai sejarah terbangunnya masjid tersebut. Sesuai yang disampaikan oleh Ketua Sako SPN DIY, rangkaian kegiatan ini diharapkan para penegak mengerti dan bisa meneladani perjuangan orang-orang terdahulu dalam membangun masjid.

“Setelah kegiatan selesai, diharapkan nanti ada transfer ilmu yang bisa dibawa pulang ke kabupaten/kota masing-masing,” pungkas Kak Sarjita.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *