Pelestarian Budaya, Mahasiswa KKN UGM Bentuk Generasi Paham Sumbu FIlosofi di Kalurahan Panembahan

Sumbu Filosofi
Tim mahasiswa KKN UGM memperkenalkan dan melestarikan warisan budaya dan Sumbu Filosofi Yogyakarta di Kalurahan Panembahan.

Yogyakarta, Jogjakeren.com – Untuk memperkenalkan dan melestarikan warisan budaya dan Sumbu Filosofi Yogyakarta, tim mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Universitas Gadjah Mada (KKN UGM) membentuk kader dengan nama Smart Intelligence Active Performer – Culture Activation. Kader ini terdiri dari pemuda dan ahli budaya dari berbagai usia dan kampung di Kalurahan Panembahan.

Program ini dilaksanakan oleh Althof Rayhan, Rayhandika, dan Roy Prasmana dengan bantuan teman-teman dari Sub-Unit 2 serta dibimbing oleh dosen lapangan, Ir. Atus Syahbudin, S.Hut., M.Agr., Ph.D., IPU. dengan tujuan untuk melibatkan anak-anak muda dari Sanggar Seni Budaya Gendhis Luwes yang terletak di Kampung Mangunnegaran, Kemantren Kraton dalam pembinaan dan pembentukan kader yang memahami Sumbu Filosofi dan signifikansinya.

Kegiatan termasuk pelatihan dan games interaktif yang mengajarkan pentingnya Sumbu Filosofi dalam kehidupan sehari-hari, serta cara menerapkan nilai-nilai tersebut untuk menciptakan hubungan yang harmonis antara manusia, alam, dan Tuhan. Selain itu, program ini juga mencakup pembinaan bahasa Inggris bagi peserta Sanggar Seni Budaya dan warga sekitar.

Bacaan Lainnya
Sumbu Filosofi
Pelatihan dan games interaktif diterapkan kepada anak-anak dalam memperkenalkan makna sumbu filosofi.

Hal ini memungkinkan peserta untuk memperkenalkan budaya Yogyakarta dan Sumbu Filosofi kepada pendatang mancanegara yang sering berkunjung ke Kraton. Pengenalan Sumbu Filosofi dalam bahasa Inggris disampaikan melalui kegiatan interaktif dan infografis yang dibuat dalam bentuk poster. Kegiatan pembinaan dilaksanakan sebanyak lima kali, disertai dengan kegiatan menari dari Sanggar Tari sebagai bentuk pelestarian budaya di wilayah Kraton.

Sebagai langkah untuk meningkatkan pelestarian budaya dan mendapatkan pengakuan dari UNESCO, Kalurahan Panembahan di Kemantren Kraton, Yogyakarta, mengadopsi strategi branding kampung wisata. Langkah ini dianggap penting dalam meningkatkan eksposur terhadap kekayaan budaya yang dimiliki serta potensi yang tersedia di wilayah tersebut.

Tim KKN UGM turut berperan dalam mendukung upaya ini. Mereka mengambil langkah konkret dengan memasang banner di lokasi-lokasi strategis, seperti di sanggar Seni Budaya Gendhis Luwes yang dipimpin oleh Watiek, untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya pelestarian budaya.

Sumbu Filosofi Yogyakarta tidak hanya mengajarkan pentingnya keharmonisan antara manusia, tetapi juga hubungan yang baik dengan Tuhan. Ketua Sanggar Seni Budaya Gendhis Luwes, Watiek, menyampaikan bahwa Sumbu Filosofi memberikan pengajaran tentang nilai-nilai spiritual yang sangat penting.

Sumbu Filosofi
Tim KKN UGM bersama Ketua Sanggar Seni Budaya Gendhis Luwes, Watiek (kanan).

“Sumbu Filosofi mengajarkan bahwa kita memiliki Tuhan yang selalu memberikan pertolongan saat menghadapi kesulitan dan kesusahan. Hal ini mengakar dalam budaya saling menghargai kepercayaan yang berbeda, mendorong toleransi antar umat beragama, memupuk kerja sama, menjalin persahabatan yang baik, dan menekankan pentingnya tidak bermusuhan antar sesama,” ujar Watiek.

Menari tari tradisional daerah juga merupakan salah satu cara pelestarian budaya yang dapat diajarkan kepada generasi muda. Watiek, sebagai ketua Sanggar Seni Budaya Gendhis Luwes di Kampung Mangunnegaran, telah aktif melaksanakan kegiatan tersebut. Upaya ini dilakukan untuk menjaga kelestarian budaya lokal di tengah arus modernisasi yang semakin memikat perhatian generasi muda.

Tidak hanya branding serta pemahaman konsep, Tim KKN juga memperhatikan pentingnya higienitas pada warga dan peserta. Ada sebuah ungkapan yang menyatakan bahwa kebersihan adalah sebagian dari kesucian. Prinsip-prinsip Sumbu Filosofi juga mengajarkan pentingnya kesucian melalui simbol Tugu Golong Gilig. Dengan demikian, Tim KKN mengadakan program pelatihan praktis tentang pentingnya menjaga kebersihan diri, khususnya dalam bentuk pelatihan cuci tangan yang benar. Peserta diundang untuk mengikuti sesi praktik cuci tangan dengan 6 langkah yang sesuai dengan standar WHO.

Peserta terlihat sangat antusias dalam mengikuti sesi pelatihan ini, dan mereka berpartisipasi aktif dalam setiap kegiatan. Watiek berharap bahwa dengan pemahaman yang lebih mendalam tentang pentingnya menjaga kebersihan diri, mereka dapat turut berperan dalam membentuk masyarakat yang lebih sehat dan berbudaya.

Sumbu Filosofi
Pelatihan cuci tangan yang benar diajarkan kepada anak-anak sebagai bagian dari prinsip Sumbu Filosofi.

Pelatihan cuci tangan memiliki manfaat yang besar, terutama bagi anak-anak. Meskipun sederhana, praktik ini memiliki dampak besar dalam mencegah penyakit, dan keterampilan cuci tangan dapat diwariskan dari satu generasi anak ke generasi berikutnya.

Keberhasilan program ini tak terlepas dari dukungan berbagai pihak. Tim KKN ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak terkait yang telah berperan aktif dalam menyukseskan kegiatan ini.

Inisiatif yang dilakukan oleh Tim KKN UGM ini menjadi langkah penting dalam menjaga kelestarian budaya Sumbu Filosofi Yogyakarta. Selain itu, program ini juga bertujuan untuk memperkenalkan kekayaan budaya yang ada di Kalurahan Panembahan kepada masyarakat luas, sambil meningkatkan kesadaran akan gaya hidup sehat. Melalui pemahaman mengenai Sumbu Filosofi serta implementasi nilai-nilai, diharapkan generasi muda dapat tumbuh menjadi individu yang menghargai harmoni, keseimbangan, serta saling menghormati antara manusia, alam, dan Tuhan.

Dengan demikian, program ini tidak hanya berperan dalam melestarikan budaya, tetapi juga dalam membentuk karakter yang lebih baik pada generasi penerus. Semoga usaha ini dapat terus berlanjut dan memberikan dampak positif yang signifikan bagi masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *