PMS? Benarkah Pre Menstruation Syndrom itu ada?

  • Whatsapp
PMS
PMS disebabkan karena perubahan hormon ketika menstruasi yang muncul 7-14 hari sebelum haid. (Foto: www.pexels.com)

Jogjakeren.com – Jika kamu generasi milenial atau generasi Z, pasti kamu pernah mendengar istilah PMS atau Pre Menstruation Syndrom. Lalu bagaimanakah PMS menurut pendapat medis? Apakah PMS itu ada? Yuk simak pembahasannya!

Sindrom premenstruasi adalah kumpulan gejala tidak menyenangkan berupa gejala fisik, emosional dan psikologis yang terkait dengan siklus menstruasi wanita. PMS ini benar adanya dan disebabkan karena perubahan hormon ketika menstruasi. Biasanya, PMS muncul 7-14 hari sebelum haid.

Sindrom premenstruasi ini dapat dialami 63,1% remaja. Dari 75% yang mengeluhkan gejala sindrom premenstruasi, 30% di antaranya memerlukan pengobatan. Lalu bagaimanakah gejala dan faktor risiko sindroma premenstruasi?

Apa Saja Gejala Sindroma Premenstruasi?

a. Gejala emosional meliputi depresi, mudah marah, sensitif, mudah menangis, cemas, bingung, gangguan konsentrasi dan insomnia.

b.Merasa tubuh bertambah gemuk, hal ini dikarenakan peningkatan estrogen sehingga menyebabkan retensi cairan sehingga badan terasa agak bengkak.

c. Gejala fisik yang dialami seperti nyeri sendi dan otot, sakit kepala, cepat lelah, perut kembung, nyeri payudara, jerawat, diare atau sembelit, kaki dan tangan bengkak, gangguan kulit, gangguan saluran cerna, dan nyeri perut.

Apa Saja Faktor yang Bisa Mempengaruhi PMS?

  1. Diet atau asupan makanan

    Faktor kebiasaan makan seperti tinggi gula, garam, kopi, teh, coklat, minuman bersoda, produk susu dan makanan olahan dapat memperberat gejala PMS.

  2. Defisiensi zat gizi makro dan mikro

    Defisiensi zat gizi makro (energi, protein) dan zat gizi mikro, seperti kurang vitamin B (terutama B6), vitamin E, vitamin C, magnesium, zat besi, seng, mangan, asam lemak linoleat.

  3. Status perkawinan

    Berdasarkan hasil penelitian, perempuan yang telah menikah mempunyai angka kesakitan dan kematian yang lebih rendah. Selain itu, perempuan yang telah menikah cenderung mempunyai risiko yang lebih kecil untuk mengalami PMS (3,7%) daripada mereka yang tidak menikah (12,6%).

  4. Usia

    PMS semakin mengganggu dengan semakin bertambahnya usia, terutama antara usia 30-45 tahun.

  5. Stres

    Stres memainkan peran penting dalam tingkat kehebatan gejala.

  6. Kebiasaan merokok dan minum alkohol

    Kebiasaan merokok dan meminum alkohol dapat memperburuk keadaan atau gejala yang ditimbulkan.

  7. Kurang berolahraga

    Kurang berolahraga dan melakukan aktivitas fisik turut memberikan kontribusi dalam memperberat gejala PMS.

Apakah sindroma premenstruasi ada jenisnya?

Dr. Guy E. Abraham, ahli kandungan dan kebidanan dari Fakultas Kedokteran UCLA, AS, membagi PMS menurut gejalanya, yakni:

1. PMS tipe A (anxiety) ditandai dengan gejala seperti rasa cemas, sensitif, saraf tegang, perasaan labil.

2. PMS tipe H (hyperhydration) memiliki gejala edema (pembengkakan), perut kembung, nyeri pada buah dada, pembengkakan tangan dan kaki, peningkatan berat badan sebelum haid.

3. PMS tipe C (craving) ditandai dengan rasa lapar ingin mengonsumsi makanan yang manis-manis (biasanya coklat) dan karbohidrat sederhana (biasanya gula).

4. PMS tipe D (depression) ditandai dengan gejala rasa depresi, ingin menangis, lemah, gangguan tidur, pelupa, bingung, sulit dalam mengucapkan kata-kata (verbalisasi), bahkan kadang-kadang muncul rasa ingin bunuh diri atau mencoba bunuh diri.

Bagaimana cara mencegah Sindroma Premenstruasi?

1. Menghindari pola makan kurang sehat, termasuk makanan tinggi lemak, karbohidrat dan natrium, serta rendah kalsium.

2. Meningkatkan konsumsi buah dan sayur, serta asupan mineral seperti magnesium dan vitamin D.

3. Menghindari kegemukan dan stres.

4. Regulasi emosi

5. Mencatat jadwal siklus haid serta kenali gejala pms-nya, perhatikan pula apakah sudah dapat mengatasi pms pada siklus-siklus datang bulan berikutnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.