Jogjakeren.com – Harga Sembilan bahan pokok (sembako) di kota Jogja mengalami perubahan signifikan pada selasa (23/09/2025). Berdasarkan data dari Panel Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS), harga cabai merah keriting melonjak drastis menyebabkan gejolak di pasaran. Kenaikan harga ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari kondisi cuaca yang berdampak pada panen hingga panjangnya rantai distribusi. Perubahan harga ini memberikan dampak langsung kepada petani, pedagang, dan konsumen di wilayah sekitar Yogyakarta.
Harga Cabai Pedas di Kantong Warga Jogja
Perubahan harga sembako di kota Jogja terjadi pada hari Selasa, 23 September 2025. Laporan dari Panel Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) menunjukkan adanya lonjakan yang mencolok pada komoditas cabai merah keriting. Berdasarkan data yang tercatat pada pukul 11:52 WIB, harga cabai merah keriting naik sebesar Rp 5.000, dari sebelumnya Rp 50.000 menjadi Rp 55.000 per kilogram.
Kenaikan ini juga diikuti oleh cabai merah besar yang harganya menjadi Rp 44.500 per kilogram. Di sisi lain, harga beberapa komoditas lain justru mengalami penurunan termasuk cabai rawit merah, bawah putih, dan bawang merah berdasarkan data dari Badan Pangan Nasional (Bapanas) per pukul 11:59 WIB.
Saat Permintaan dan Pasokan Tak Seirama
Lonjakan dan penurunan harga bahan pokok ini disebabkan oleh beberapa faktor fundamental, terutama ketidakseimbangan antara ketersediaan barang di pasaran dan kebutuhan konsumen. Peningkatan jumlah penduduk secara alami akan meningkatkan permintaan terhadap bahan pangan, sementara produksi pertanian sering kali rentan terhadap berbagai gangguan.
Menurut penelitian Muhammad Shehan dari UIN Raden Intan Lampung, tantangan seperti perubahan iklim ekstrim, keterbatasan lahan pertanian, dan alih fungsi lahan menjadi faktor utama menghambat pasokan. Kondisi ini menciptakan celah antara jumlah barang yang tersedia dan jumlah yang dibutuhkan oleh masyarakat, yang pada akhirnya memicu fluktuasi harga yang tidak stabil di pasar.
Cuaca Ekstrem Mengancam Dapur Warga
Cuaca memainkan peran krusial dalam menentukan hasil panen dan akibatnya harga di pasaran melonjak. Sebagai contoh, cabai sebagai komoditas yang sensitive terhadap kondisi lingkungan, sangat rentan terhadap musim hujan. Hujan deras yang terus-menerus dapat menyebabkan gagal panen bagi para petani cabai, mengurangi jumlah pasokan secara signifikan dan menyebabkan harga cabai melonjak.
Sebaliknya, saat musim kemarau kondisi cuaca yang lebih stabil memungkinkan panen yang lebih berhasil dan melimpah sehingga pasokan mencukupi dan harga cendurung turun. Hal ini menunjukan betapa besar pengaruh faktor alam terhadap ketersediaan dan kestabilan harga pangan di pasar.
Rantai Panjang yang Bikin Harga Melambung
Selain faktor produksi, jalur distribusi dan kondisi pasar juga sangat berpengaruh terhadap harga akhir yang sampai ke tangan konsumen. Menurut analisis Nur Azizah Nasution, proses distribusi yang berjenjang dan panjang seringkali menambah biaya sehingga harga barang menjadi lebih mahal.
Di samping itu, minimnya persaingan di antara para pedagang juga dapat menjadi penyebab tingginya harga. Ketika hanya ada sedikit pemain di pasar, mereka memiliki control yang lebih besar atas harga yang dapat merugikan konsumen. Oleh karena itu, memastikan distribusi yang efisien dan menciptakan persaingan yang sehat di pasar sangat penting untuk menjaga harga tetap stabil dan terjangkau.





