Harmonisasi Hubungan Manusia dan Alam dalam Suksesi Pasca Erupsi

Erupsi gunung semeru
Dampak erupsi gunung semeru (Foto: Kompas.com)

Jogjakeren.com – Indonesia dikenal sebagai negara ring of fire, karena memiliki gunung berapi aktif yang tersebar di berbagai wilayah. Kondisi ini turut mempengaruhi tingginya tingkat kebencanaan di Indonesia, seperti bencana erupsi, tanah longsor, gempa bumi, hingga banjir.

Baru-baru ini, terjadi erupsi Gunung Semeru yang cukup dahsyat pada Sabtu (4/12). Menurut laman kompas.com, erupsi menyebabkan setidaknya 43 orang meninggal dunia, 169 orang terluka, dan 22 orang hilang, serta adanya timbunan abu vulkanik di beberapa wilayah di Lumajang, Jawa Timur. Bahkan, wilayah yang tertimbun abu kini nampak seperti ‘kota mati’.

Read More

Erupsi Gunung Semeru ini hendaknya mendorong adanya pemaknaan ulang harmonisasi manusia dan alam semesta. Dalam filsafah jawa dikenal ‘Rahayuning bawana kapurba waskithaning manungsa’ yang artinya kesejahteraan dunia tergantung manusia yang memiliki ketajaman rasa.

Lalu, bagaimana peran filsafah tersebut dalam suksesi alam pasca erupsi?

Filsafah ‘Rahayuning bawana kapurba waskitaning manungsa’ menekankan pentingnya harmoni hubungan antara manusia dengan alam. Baik peran manusia kepada alam sebagai kewajiban ‘hamengku bhumi’, maupun dalam hubungan manusia dengan alam semesta (universe) sebagai kewajiban ‘hamengku bawana’.

Erupsi gunung berapi biasanya diawali dengan keluarnya awan panas atau dalam istilah jawa ‘wedhus gembel‘. Muntahan lahar gunung berapi mengandung abu vulkan. Abu vulkan adalah seluruh bahan vulkanik yang lepas, terdiri dari pasir, debu, kerikil, dan bebatuan.

Dilansir dari laman Penelitian dan Pengembangan Tanah, kandungan liat (clay) dalam abu vulkan sangat rendah, hanya 1-3% saja. Timbunan abu vulkan membuat struktur tanah menjadi buruk, ketersediaan air sedikit, serta kandungan unsur hara yang rendah. Hal ini menjadi faktor pembatas atau penghambat bagi vegetasi (tanaman) untuk tumbuh dan beradaptasi. Sehingga, sebagian besar wilayah yang terkena dampak letusan hingga saat ini masih dalam kondisi terbuka atau gundul.

Apabila terjadi hujan lebat dalam waktu lama, maka banjir lahar dapat terjadi. Untuk menghindari kondisi ini, wilayah terbuka (bare land) perlu direhabilitasi, sedangkan pada daerah pertanian yang terpapar endapan vulkanik diperlukan upaya konservasi.

Kerusakan lahan akibat erupsi nampaknya sangat beragam di berbagai wilayah. Tingkat kerusakan lahan dipengaruhi oleh aliran lahar, karena menyebabkan dasar sungai tertimbun, perubahan kelokan sungai, dan tebing sungai rendah.

Perlu adanya upaya penghijauan dengan vegetasi untuk mengatasi masalah pengendalian daur air dan longsor lahan. Pemilihan jenis tanaman untuk pengendalian longsor lahan eks lahar menjadi kunci utama keberhasilan pencegahan longsor menggunakan teknik vegetatif.

Kondisi perakaran memiliki peran penting dalam menahan lapisan tanah, semakin banyak cabang akar semakin kuat tanaman mencengkeram tanah sehingga kestabilan tanah meningkat. Selain itu, kerapatan penanaman tajuk pohon berperan dalam mencegah longsor.

Beberapa jenis tanaman keras yang dapat digunakan untuk penghijauan dan rehabilitasi lahan eks lahar, di antaranya pohon asam jawa, jati, sono kembang, sono keling, lamtoro, mahoni, kesambi, bungur, johar, dan kemiri.

Suksesi Vegetasi Pasca Erupsi
Suksesi vegetasi pasca erupsi (Foto: foresteract.com)

Suksesi alam pasca erupsi bergantung pada ketajaman rasa manusia, yaitu kepedulian manusia terhadap peran lingkungan dalam kehidupannya. Sebagai penentu kebijakan, pemerintah dapat mengeluarkan peraturan atau program yang mendukung upaya rehabilitasi dan konservasi lahan. Masyarakat pun harus mengambil peran dalam menyukseskan upaya-upaya tersebut.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.