Jelajah Kampung Sangurejo Menutup Rangkaian Deklarasi dan ToT Menuju ProKlim Lestari

proklim
Menutup rangkaian deklarasi dan ToT, para peserta diajak berkeliling menjelajahi stand pameran salah satunya budidaya magot

Sleman, Jogjakeren.com – Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) melalui Departemen Litbang, Iptek, Sumberdaya Alam, dan Lingkungan Hidup (LISDAL) menggelar deklarasi Program Kampung Iklim (ProKlim) yang dipusatkan di Padukuhan Sangurejo, Wonokerto, Turi, Sleman.

Sebelumnya, Padukuhan Sangurejo telah meraih penghargaan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI Kategori Program Kampung Iklim Utama. Maka dalam rangka memperingati Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2024 Padukuhan Sangurejo dideklarasikan menjadi Program Kampung Iklim Kategori Lestari, Senin (16/9/2024).

Pada kesempatan itu, dilaksanakan pula launching beberapa inovasi program, penyerahan 6 mesin potong rumput, Perjanjian Kerja Sama LDII DIY dengan BKKBN DIY dan Training of Trainer (ToT) Kampung Iklim Guna Adaptasi dan Mitigasi Perubahan Iklim. Program yang dilaunching adalah 29 Karakter Luhur LDII Bidang Lingkungan Hidup, Living Museum Kampung Iklim Sangurejo dan Sekolah Lansia ProKlim. Bersamaan pula dilaunching “September Bulan Sedekah Air Pakai Sampah”.

Read More

Menutup rangkaian deklarasi dan ToT, para peserta diajak berkeliling menjelajahi stand pameran dan Kampung Sangurejo sembari berdiskusi. Jelajah Kampung dipandu oleh anggota Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Agus Kurniawan dan Ketua ProKlim Sangurejo M. Chairul Huda.

Terdapat 11 stand pameran memeriahkan Deklarasi dan ToT Menuju ProKlim Lestari di Padukuhan Sangurejo yakni Satuan Komunitas Pramuka Sekawan Persada Nusantara, Ecoprint dan Craft Sangurejo (ECSA), stand kesehatan dan Lembaga Pengelola Shodaqoh Sampah Remaja Komplek Masjid (LPSS Rekoma). Kemudian stand budidaya lahan marjinal (padi dalam pot), budidaya magot, pupuk organik, Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Padukuhan Sangurejo, Kelompok Wanita Tani (KWT) Ledok Wuni, Kelompok Tani Tadah Hujan dan stand perikanan.

ecoprint
Hasil produk dari eco print berupa kain, baju, tumblr, blangkon dan sandal

Mengunjungi stand ecoprint, peserta diberi wawasan mengenai teknik ecoprint yang merupakan proses mempermudah dedaunan terdekomposisi. Peserta juga diperlihatkan hasil ecoprint berupa kain, baju, tumbler, blangkon dan sandal. “Tujuan yang ingin diraih dari ecoprint ini adalah peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui lingkungan,” tutur Ketua DPW LDII DIY Atus Syahbudin yang mendampingi tamu undangan berkeliling mengunjungi stand pameran.

Ketika menjelajah kampung, peserta dikenalkan dengan program yang sudah berjalan di Padukuhan Sangurejo. Di antaranya program tiap rumah memiliki jugangan atau biasa disebut “Jugangan ing Omah”, biopori, pola tanam agroforestik, relokasi ternak dan spot healing. “Program biopori ini mempunyai dua fungsi yaitu peresapan dan kompos. Saat ini biopori yang sudah terpasang ada 150,” ungkap Agus Kurniawan. Sedangkan untuk ternak kambing direlokasi terpisah dengan pemukiman warga dan ternak ayam disepakati harus dikandangkan.

Agus juga menerangkan dengan adanya semua pihak berjalan beriringan maka terwujudlah Sangurejo yang bersih dimana dulunya Sangurejo dikenal padat, kumuh, miskin (pakumis). “Dan dengan aktifnya masyarakat, pemerintah melalui dinas terkait juga akan memberi dukungan berupa sarana seperti biopori dan peralatan tadah hujan,” pungkasnya.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *