Kabar Buruk, Angka Kejadian DM pada Anak Naik 700% Dalam 10 Tahun

  • Whatsapp
Diabetes
eningkatan Angka Kejadian DM pada Anak-Anak (Sumber: www.kompas.com)

Jogjakeren.com – Diabetes rupanya tak hanya dapat dialami oleh orang dewasa, tetapi juga menyerang anak-anak. Data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyatakan angka kejadian Diabetes Melitus (DM) pada anak usia 0-18 tahun mengalami peningkatan sebesar 700% selama jangka waktu 10 tahun. Bahkan, kasus diabetes secara umum meningkat 220% selama pandemi Covid-19.

Menurut dr. Aman Bhakti Pulungan, Sp.A(K), penyakit diabetes melitus atau kencing manis adalah gangguan metabolisme yang timbul akibat peningkatan kadar gula darah di atas nilai normal. Hal ini disebabkan adanya gangguan pada produksi hormon insulin, gangguan kerja insulin, atau keduanya.

Penyakit DM pada umumnya dibedakan menjadi 2 tipe, yaitu DM tipe-1 dan DM tipe-2. DM tipe-1 disebabkan oleh pankreas yang tidak memproduksi cukup insulin, sementara DM tipe-2 disebabkan oleh gangguan kerja insulin yang juga dapat disertai kerusakan pada sel pankreas.

Hormon insulin dihasilkan oleh kelenjar pankreas. Hormon ini berfungsi mengatur penggunaan glukosa oleh otot, lemak, atau sel-sel lainnya di dalam tubuh. Apabila produksi insulin berkurang, maka akan menyebabkan tingginya kadar gula dalam darah serta gangguan metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein.

Awas! Anak-anak Juga Rawan Diabetes

Seringkali DM dianggap sebagai penyakit orang dewasa. Namun demikian, DM juga dapat terjadi pada anak-anak dan remaja, khususnya DM tipe-1. Meskipun kasus DM tipe-1 yang paling banyak pada anak, terdapat kecenderungan peningkatan kasus DM tipe-2 pada anak dengan faktor risiko obesitas, genetik dan etnik, serta riwayat DM tipe-2 di keluarga.

Diabetes bisa menjadi penyebab utama kebutaan, gagal ginjal, serangan jantung, stroke, bahkan amputasi anggota tubuh bagian bawah. Komplikasi diabetes juga dapat mengakibatkan peripheral artery disease (penyakit arteri perifer), peripheral neuropathy (neuropati perifer), diabetic nephropathy (nefropati diabetik), dan diabetic foot (kaki diabetik).

Apa Penyebab Diabetes Melitus pada Anak-anak?

Penyebab DM tipe-1 adalah interaksi dari banyak faktor antara lain, seperti kecenderungan genetik, faktor lingkungan, sistem imun, dan sel pankreas. Sedangkan, DM tipe-2 sangat erat kaitannya dengan gaya hidup yang tidak sehat, seperti berat badan berlebih, obesitas, kurangnya aktivitas fisik, hipertensi, dislipidemia, dan diet tidak sehat/tidak seimbang, serta merokok.

Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 menunjukkan angka kejadian faktor risiko DM tipe-2 yaitu sebesar 18,8% anak usia 5-12 tahun mengalami kelebihan berat badan dan 10,8% menderita obesitas.

Cek Kembali, Gejala DM yang Perlu Diwaspadai

Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM), Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kementerian Kesehatan RI merilis beberapa gejala DM pada anak.

1. Banyak makan

Anak dengan diabetes akan merasa lapar terus-menerus, meskipun baru saja selesai makan. Rasa lapar ini didorong oleh jumlah insulin yang tidak memadai, sehingga kandungan gula tidak dapat diolah menjadi energi.

2. Banyak minum

Anak dengan diabetes akan merasa haus terus-menerus karena ketidakmampuan tubuh memproduksi hormon insulin, sehingga tubuh mengalami dehidrasi.

3. Banyak kencing dan mengompol

Rasa haus yang menyebabkan anak minum terus-menerus tidak diimbangi dengan kemampuan tubuh untuk menyerap cairan dengan baik. Frekuensi membuang air kecil meningkat di malam hari.

4. Penurunan berat badan yang drastis dalam 2-6 minggu sebelum terdiagnosis

Meskipun anak dengan diabetes sering meminta makan, tetapi tubuhnya tidak bertambah gemuk. Anak justru cenderung kehilangan berat badan secara cukup signifikan. Hal ini diakibatkan oleh ketidakmampuan tubuh dalam menyerap gula darah dalam tubuh sehingga menyebabkan jaringan otot dan lemak menyusut.

5. Kelelahan dan mudah marah

Tubuh anak yang tidak mampu menyerap gula dari asupan makanan membuatnya kekurangan energi, sehingga mudah merasa lelah. Anak juga akan mengalami gangguan perilaku dan perubahan emosi menjadi cepat marah dan murung.

6. Tanda kedaruratan lainnya yang perlu diwaspadai, antara lain sesak napas, dehidrasi, syok, dan napas berbau keton.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.