Pandemi Covid-19: Menilik Relevansi Paradigma ‘Nakes sebagai Garda Terdepan’

  • Whatsapp

Jogjakeren.com – Di tengah pandemi Covid-19, kita tak asing lagi dengan paradigma ‘Tenaga kesehatan (nakes) sebagai garda terdepan’. Paradigma ini hangat diperdebatkan oleh masyarakat selama pandemi. Di Hari Dokter Indonesia, yuk kita tilik bagaimana relevansi paradigma tersebut.

Pandemi Covid-19 masih berlangsung hingga menjelang akhir tahun 2021. Pada akhir tahun 2019, World Health Organization (WHO) mendeklarasikan wabah Covid-19 sebagai pandemi dan permasalahan kesehatan global. Dalam waktu singkat, kasus Covid-19 menyebar secara cepat ke hampir semua belahan dunia, tak terkecuali di Indonesia.

Bacaan Lainnya

Pandemi Covid-19 memunculkan banyak tantangan baru. Tidak hanya di bidang kesehatan, pandemi juga berdampak pada bidang pendidikan, keagamaan, kegiatan sosial, politik luar negeri, industri dan roda perekonomian.

Hingga 23 Oktober 2021, https://worldometer.info/coronavirus mencatat tidak kurang dari 243.768.851 kasus infeksi Covid-19 dengan 4.950.000 kasus kematian. Di Indonesia, kasus Covid-19 terus melonjak secara fluktuatif sampai tengah tahun 2021. Hal ini ditengarai masih tingginya tingkat mobilitas masyarakat. Meskipun, berbagai program pengendalian transmisi telah diterbitkan, di antaranya pembatasan jarak fisik, penggunaan masker, gerakan cuci tangan dengan sabun dan air mengalir, serta pembatasan kerumunan dan mobilitas.

Menurut para ahli dunia, virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 mudah berpindah melalui batuk, bersin, dan kontak fisik dengan permukaan benda yang terkontaminasi. Hal ini menjawab pentingnya pembatasan jarak fisik dan mobilitas. Dalam kurun 1 tahun terakhir, Pemerintah Indonesia secara responsif mengeluarkan berbagai kebijakan untuk membatasi mobilitas masyarakat, seperti Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).

Lonjakan kasus Covid-19 turut meningkatkan beban pelayanan kesehatan di berbagai daerah. Fasilitas pelayanan kesehatan primer maupun rumah sakit menjumpai kondisi yang sama, tak terkecuali pusat-pusat atau shelter isolasi. Di RSUP Dr. Sardjito, misalnya, keterisian rumah sakit (bed occupancy rate) yang meningkat mendorong rumah sakit mendirikan barak darurat untuk menangani pasien Covid-19.

Bagaimana kondisi saat ini?

Peningkatan beban pelayanan kesehatan meliputi beban terhadap penggunaan fasilitas, infrastruktur, pembiayaan, maupun sumber daya manusia. Tak jarang, para nakes kewalahan dalam menangani pasien Covid-19 di rumah sakit. Kondisi kesehatan dan jumlah tenaga kesehatan tentu menjadi perhatian khusus di tengah pandemi.

Tim Mitigasi Ikatan Dokter Indonesia (IDI), hingga September 2021, mencatat terdapat 730 orang dokter yang gugur setelah terpapar Covid-19. Hal ini tak terlepas dari tingginya risiko transmisi Covid-19 di lingkungan rumah sakit. Sehingga, tenaga kesehatan lain juga memiliki kemungkinan paparan yang sama.

Paradigma ‘Nakes sebagai garda terdepan’ mulai santer diperbincangkan di kalangan masyarakat. Namun, munculnya paradigma ini justru disayangkan oleh beberapa tokoh.

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo memilih untuk menempatkan nakes sebagai garda terakhir dalam penanganan pandemi. Senada dengan hal tersebut, pendapat yang sama muncul dari perkumpulan profesi dokter. “Konsep yang kami usulkan, sebenarnya yang harus jadi garda terdepan itu masyarakat. Dokter, tim medis, ini benteng terakhirnya,” ujar Adib Khumaidi, Wakil Ketua Umum IDI dalam forum Dialog Crosscheck (12/4/2020).

Kita sebagai masyarakat tetap harus mengambil peran dalam memutus rantai penularan Covid-19, ya. Gimana menurut kalian, Sob?

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.