Penerapan Teknologi Vertikultur
Sebelumnya, dalam rangka meningkatkan produksi bunga kering, tim TTG UGM mengenalkan bunga telang dengan mahkota bertumpuk dan penerapan teknologi vertikultur, Minggu (25/10/2020).
“Batang tanaman bunga telang dibuat yang kokoh dan besar, diberi tiang dan anjang-anjang, sehingga tanaman dapat merambat lebih tinggi. Cabang-cabangnya yang banyak dapat menjuntai ke mana-mana. Bunga yang dihasilkan akan lebih banyak lagi karena memperoleh sinar matahari secara merata, dari bawah hingga atas,” papar Nasih yang menemukan pula teknik ember tumpuk.
Nasih juga menyarankan perlunya pemberian pupuk agar tanaman bunga telang tumbuh subur. Pupuk dapat pula diambilkan dari Pupuk Organik Cair (POC) hasil olahan limbah rumah tangga dengan penerapan teknologi ember tumpuk. Dengan demikian, penerapan teknologi ini bersifat ramah lingkungan dan masyarakat pun semakin sejahtera.
Sementara itu, Atus selaku ketua tim TTG UGM mengharapkan bahwa seiring dengan meningkatnya kesejahteraan masyarakat maka tingkat ketergantungannya terhadap hutan sebagai sumber pangan dan kayu bakar dapat menurun drastis. Secara alami hutan pegunungan akan memulihkan ekosistemnya sebagai sumber air, udara sejuk, lanskap, dan pelestarian flora dan fauna.
“Sejak 2014 berbagai solusi kegiatan ekonomi bagi masyarakat di sekitar hutan Gunung Lawu telah diinisiasi. Saat masyarakat mulai menerima uang dari alternatif penghasilan tersebut seperti pembayaran homestay, uang parkir obyek wisata alam atau penjualan bunga telang, kami berharap masyarakat pun tidak lagi mengganggu hutan. Bahkan mereka dengan senang hati turut menjaga dan melindunginya karena berkait erat dengan sumber uang mereka,” harap Atus.
Dari pengembangan bunga telang ini, Tim TTG UGM berhasil meraih pemenang hibah TTG Direktorat Pengabdian UGM.





