Remaja Masdanis Belajar Baking Class Kabocha, Si Pendingin Perut Orang Jepang

Remaja Masdanis
Remaja Masdanis mengikuti Baking Class Kabocha yang dikenal sebagai pendingin perut orang Jepang.

Sleman, jogjakeren.comKabocha adalah varietas labu manis dalam keluarga Cucurbitaceae berkerabat dengan labu dan ubi. Kabocha yang sering juga disebut labu Jepang terlihat seperti versi labu yang lebih kecil, rasanya manis, lembut dan teksturnya lebih mirip dengan ubi jalar.

Bulan lalu tepatnya pada 12 Oktober 2023 remaja MDT Al-Fattah Ummu Dani Salamah (Masdanis) mengadakan baking class dengan olahan dari kabocha yang dipercaya memiliki kandungan gizi yang tinggi. Dilaksanakan di Masjid Ummu Dani Salamah bersama dengan Jumiati, S.Pd. pemilik Imoto Cakery yang berperan sebagai pengajar dalam acara baking class.

Kabocha alias labu kuning dipercaya orang Jepang sebagai makanan pendingin perut. Biasanya mereka mengolah kabocha menjadi tempura, sup, kue ataupun dikukus lalu dimakan langsung. Ini gaya hidup sehat orang Jepang dalam keseharian khususnya dalam mengkonsumsi variasi sumber karbohidrat. Tidak melulu gohan alias nasi,” ujar Jumiati.

Bacaan Lainnya
Remaja Masdanis
Jumiati berjilbab hijau sedang menjelaskan cara memasak kabocha.

Acara ini dihadiri oleh remaja dari usia SMP ke atas, mereka dibagi menjadi 4 kelompok. Setiap kelompok menyiapkan komposisi bahan dan peralatannya. Selanjutnya masuk pada tahap pengolahan mulai dari penimbangan bahan-bahan, mengukus, menghaluskan, mengolah bahan lainnya hingga memasukkan adonan ke dalam cetakan lalu memanggang ke dalam  oven. Sentuhan terakhir tak lupa diberi topping pilihan seperti keju dan chocochips agar terlihat lebih cantik dan menarik.

Dari hasil jajak pendapat via google form, mayoritas peserta mengungkapkan kesannya yaitu acara baking class  ini menarik, menyenangkan, punya kesempatan belajar hal baru, menginspirasi, dan menambah wawasan yang sangat bermanfaat bagi mereka.

Suasana santai sambil belajar ini diharapkan mampu menambah keakraban, kerukunan dan kekompakan mereka. Dan juga menambah wawasan tentang skill memasak sebagai wujud mengasah kemampuan kemandirian remaja, selain berjibaku dalam ilmu agama setiap harinya. Peserta berharap kedepannya acara seperti ini diagendakan kembali dengan variasi menu yang berbeda.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *