Mengembangkan Eduwisata Akuaponik di Pantai Pandansari

  • Whatsapp
Pantai Pandansari
Ilustrasi (Foto: jatengtoday.com)

Jogjakeren – Pantai Pandansari merupakan salah satu destinasi wisata yang terbentang indah di Kabupaten Bantul tepatnya di Desa Patehan, Kelurahan Gadingsari, Kecamatan Sanden, Kabupaten Bantul. Pantai ini memiliki keunikan dibandingkan dengan pantai lain yang berada di Jogja yaitu hamparan pasir coklat kehitaman dan pada tepi pantai terdapat pohon cemara udang yang terlihat memagari pantai tersebut. Selain itu, pada pantai tersebut juga terdapat mercusuar yang menjulang tinggi sehingga pengunjung yang mengunjungi pantai pandansari dapat menikmati keindahan pantai tersebut dengan menaiki mercusuar tersebut.

Untuk meningkatkan eksistensi Pantai Pandansari, Pemerintah Desa Gadingsari akan mengembangkan sektor wisata baru di area Pantai Pandasari yaitu sarana eduwisata pertanian akuaponik. Harapan Pemerintah Desa dengan adanya eduwisata mengenai sistem pertanian akuaponik dapat memberikan wawasan dan pengetahuan bagi pengunjung. Selain itu juga dapat memperbarui dan meningkatkan keterampilan petani dalam bertani agar tidak terpaku pada sistem pertanian yang konvensional.

Bacaan Lainnya

Saat ini, petani Desa Gadingsari dan masyarakat petani pada umumnya melakukan pertanian dengan media tanah. Padahal dengan sistem pertanian tersebut sangat rawan terjadi kerusakan baik dari hama maupun penyakit tanaman sehingga tidak jarang para petani tersebut menggunakan pupuk kimia dan pestisida untuk membantu kesuburan tanaman. Penggunaan agrokimia yang berlebihan atau tidak sesuai takaran tersebut dapat menyebabkan dampak negatif baik terhadap lingkungan maupun makhluk hidup yang mengonsumsinya.

Oleh karena itu, disarankan menggunakan sistem pertanian akuaponik yang merupakan kombinasi antara sistem pertanian tanpa menggunakan media tanah (hidroponik) dengan budidaya ikan. Dengan menggunakan teknologi akuaponik dalam bertani dapat dihasilkan produk pertanian organik karena teknologi tersebut tidak menggunakan pupuk kimia dan pestisida untuk membantu kesuburan tanaman.

Teknologi akuaponik menggunakan sistem resirkulasi yaitu mengalirkan air kolam yang mengandung kotoran ikan dan sisa-sisa pakan dialirkan menuju pipa PVC atau talang sebagai tempat tumbuh tanaman. Air dari kolam tersebut akan diserap oleh akar tanaman dan digunakan sebagai media pertumbuhan tanaman, peran kotoran serta sisa-sisa pakan ikan tersebut untuk memenuhi nutrisi organik bagi tanaman.

Pantai Pandansari
Sistem Akuaponik (Miftasha, 2021)

Setelah proses penyerapan dan penyaringan selesai dilakukan oleh tanaman, air kembali bersirkulasi ke sistem akuakultur dalam tangki/kolam. Air yang dikembalikan ke kolam tersebut mengandung oksigen yang sangat bermanfaat bagi ikan sehingga dapat disimpulkan bahwa sistem pertanian dengan menggunakan teknologi akuaponik tersebut memiliki hubungan mutualisme antara tanaman dan ikan.

Kelebihan Sistem Akuaponik

Kelebihan dari sistem pertanian akuaponik di antaranya adalah:

  1. Hemat Lahan

Dalam bertani menggunakan terknologi akuaponik maka tidak memerlukan lahan yang luas untuk menanam tanaman. Dalam sistem ini tanaman dapat ditanam di dalam talang atau pipa PVC yang dapat disusun secara vertikal atau horizontal di atas kolam ikan. Kemudian air dari kolam ikan dialirkan pada talang atau pipa PVC tersebut sebagai media pertumbuhan tanaman.

  1. Hemat Biaya

Bertani dengan teknologi akuaponik dapat menghemat modal petani karena dalam pembudidayaan tanaman tidak memerlukan pupuk kimia maupun pestisida untuk membantu pertumbuhan tanaman. Nutrisi untuk tanaman dipenuhi oleh air dari kolam ikan yang mengandung kadar N dan P. Nutrisi tersebut berasal dari nutrisi asal kotoran dan sisa metabolisme ikan.

  1. Hemat Air

Dalam sistem akuaponik ini menerapkan sistem resirkulasi yaitu sistem yang telah digunakan oleh tanaman dapat dialirkan kembali menuju kolam sehingga air tersebut dapat dilakukan berulang kali. Penambahan air hanya dilakukan apabila air mengalami penguapan.

  1. Hemat Tenaga Kerja

Tenaga kerja yang diperlukan dalam bertani menggunakan teknologi akuaponik ini tidak terlalu banyak karena untuk menjalankan sistem ini dapat dilakukan dengan pompa air dan timer. Selain itu, karena kotoran dan sisa-sisa pakan ikan dialirkan menuju media tanam maka tidak perlu sering dalam membersihkan kolam ikan.

  1. Padat Populasi

Pada volume air sama, jumlah ikan yang ditebar pada sistem akuaponik lebih banyak dibandingkan dengan konvensional. Contohnya pada volume air 300 liter dapat ditebar 500 ekor benih lele pada sistem akuaponik, sedangkan sistem konvensional hanya 300 ekor benih lele (Apriyanti dan Rahimah, 2016).

Kelemahan Sistem Akuaponik

Selain kelebihan, sistem pertanian menggunakan teknologi akuaponik ini juga memiliki beberapa kelemahan yaitu:

1.Dalam mengembangkan sistem pertanian akuaponik, tidak hanya menggabungkan antara sistem akuakultur dan hidroponik tetapi sistem ini juga memerlukan perhatian khusus, yaitu mengenai jumlah ikan, jumlah pakan yang diberikan ke ikan, jumlah tanaman, serta pertumbuhan bakteri yang peranannya sangat vital.

2. Sistem akuaponik sangat bergantung dengan adanya listrik untuk mengoperasikan pompa air dan mengalirkannya ke pipa atau talang sebagai media tanam. Apabila listrik tersebut mati maka sangat beresiko terjadi kematian pada tanaman karena tanaman kekurangan air sebagai media pertumbuhan.

3. Investasi awal yang tinggi karena pada sistem akuaponik diperlukan pembuatan instalasi dan filter serta bahan-bahan lain yang diperlukan dalam sistem akuaponik.

Terdapat beberapa jenis sistem akuaponik yang telah dilakukan oleh masyarakat di antaranya sistem akuaponik rakit apung, sistem akuaponik sumbu, sistem akuaponik nutrient fil technique (NFT), sistem akuaponik deep flow technique (DFT), dan sistem akuaponik dutch bucket system (DBS). Pada pengembangan teknologi pertanian akuaponik di Pantai Pandansari, tim KKN PPM UGM 2021 merekomendasikan kepada pengelola wisata teknologi akuaponik dengan sistem DFT.

Pantai Pandansari
Sistem Akuaponik Model DFT (Alim, 2019)

Hal ini karena model DFT memiliki beberapa kelebihan di antaranya dengan menggunakan luasan lahan yang sama dapat menghasilkan hasil panen tanaman dan perikanan dengan jumlah lebih besar dan biaya instalasi yang cenderung lebih murah (Alim, 2019). Selain itu, pada model DFT ini yaitu saat pompa mati akibat kehilangan daya listrik, tanaman masih bisa mendapatkan air kolam sebagai nutrisi, karena air masih menggenang di talang air atau pipa (Rahmawati dan Dailami, 2021).

Pantai Pandansari
Ilustrasi sistem akuaponik

Penggunaan pompa pada model DFT juga dapat menerapkan timer yang dapat mengatur kapan pompa tersebut nyala atau mati sehingga pompa tidak menyala 24 jam dan menghemat biaya. Model DFT ini cocok digunakan untuk eduwisata akuaponik karena sistemnya yang relatif sederhana dan tidak memerlukan pengecekan terus menerus sehingga tidak menyulitkan pengelola wisata dalam mengelola pengembangan eduwisata akuaponik di Pantai Pandansari.

 

Penulis: Vioretta Putri
Mahasiswa KKN-PPM UGM

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *