Sleman, Jogjakeren.com – DPD LDII Kabupaten Sleman menggelar kegiatan peningkatan softskill ‘Pelatihan Public Speaking’. Pelatihan yang dilaksanakan pada Minggu (19/5/2024) lalu dihadiri oleh puluhan peserta, meliputi seluruh Ketua PC dan PAC LDII dari Kabupaten Sleman dan Kota Yogyakarta. Kegiatan dilaksanakan di Masjid Mulyo Abadi, Mulungan dan disambut baik oleh Komisi Dakwah dan Bina SDM MUI DIY, Drs. Syaifuddin Jufri, MA. yang juga menjadi narasumber di acara tersebut.
Pada momen tersebut, Syaifuddin juga menyempatkan diri untuk berkeliling kompleks Pondok Pesantren Mulyo Abadi milik Yayasan Mulyo Abadi Yogyakarta. Melihat cara pengajaran Kutubus Sittah serta fasilitas yang diberikan seperti keadaan kelas, masjid, hingga kamar kecil yang didesain khusus sesuai dengan pedoman LDII.
Dalam kesempatannya, pengasuh Pondok Pesantren Al-Muyamman ini menegaskan bahwa terdapat 3 komponen utama dalam agama yaitu iman, Islam dan ihsan. Dengan sebutan lain perlu aqidah, syariah dan akhlak. Ketika berbicara akhlak, setiap etnis pasti berbeda, sehingga perlu pendekatan atau cara komunikasi yang berbeda pula.
Syaifuddin Jufri juga menitikberatkan pada tugas MUI selaku payung besarnya umat Islam yang harus bisa menjadi wadah bagi semua. Indonesia dengan agama Islam yang sangat heterogen perlu dibina dengan seimbang tanpa membeda-bedakan.
“Public speaking itu sesuatu yang harus dimiliki oleh mereka yang menyandang gelar sebagai ulama. Ulama mengajak dan merangkul supaya orang yang diajak bisa ikut. Jika ada kendala dalam public speaking maka ajakannya akan tidak efektif,” tutur Syaifuddin.
Kesan eksklusif LDII perlu diminimalisasi oleh ulama dan juru dakwah LDII. Untuk dapat mencapainya, kemampuan public speaking perlu dimaksimalkan dengan melakukan praktik dari hal-hal kecil di antaranya senang silaturahim dengan semua pihak.
Perwakilan dari MUI DIY ini juga mengharapkan bahwa acara-acara seperti ini dapat diberikan secara periodik. “Zaman semakin berkembang sehingga bahasa yang digunakan pasti akan berkembang pula. Jika dalam 20 tahun yang akan datang (kita) masih menggunakan bahasa konvensional seperti sekarang, maka tidak akan relevan dengan audiens di kemudian hari,” pungkasnya.





