Program Kampung Iklim, Pengolahan Sampah Upaya Menyelamatkan Lingkungan

Pengolahan Sampah Kampung Proklim
dr. Etty Kumolowati, M.Kes selaku Staf Ahli Gubernur Bidang Sosial Budaya dan Kemasyarakatan meninjau langung proses kegiatan pelatihan.

Jogjakeren.com – Perubahan iklim adalah kondisi berubahnya iklim yang disebabkan oleh aktivitas manusia baik secara langsung atau tidak langsung. Program Kampung Iklim (Proklim) merupakan sebuah gerakan nasional pengendalian perubahan iklim berbasis komunitas sebagai respon terhadap dampak perubahan iklim yang telah terjadi di tingkat tapak. Sejalan dengan adanya program ini, Kampung Pramuka Sangurejo yang terletak di Dusun Sangurejo, Wonokerto, Turi, Sleman telah menyelenggarakan kegiatan Deklarasi Proklim Kampung Pramuka Sangurejo, Minggu (26/2/2023).

Acara deklarasi berjalan dengan sukses dan diwarnai dengan adanya pertunjukan pencak silat dari Padepokan Satriatama hingga kegiatan pelatihan. Terdapat dua macam pelatihan yang diselenggarakan dalam rangka peningkatan kapasitas masyarakat, yakni pelatihan ecoprint dan pelatihan pengolahan sampah.

Pelatihan pengolahan sampah dan pelatihan ecoprint (teknik mencetak pada kain) merupakan bagian dari upaya kegiatan mitigasi dalam progam kampung iklim (Proklim). Pada hakikatnya, tujuan dari kegiatan pelatihan ini adalah memanfaatkan sesuatu di lingkungan sekitar kita yang belum bernilai diolah menjadi barang yang berharga dan bernilai jual.

Read More

Selain itu, kegiatan ini diarahkan untuk mendukung kebijakan pembangunan menuju rendah karbon dan berketahanan iklim yang konsisten dengan komitmen untuk berkontribusi dalam upaya global dalam mencapai sasaran tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals).

Taufiq Armunanto Ulu-ulu Kalurahan Wonokerto sekaligus penanggung jawab dua pelatihan di acara Deklarasi Proklim menjelaskan adanya korelasi antara kegiatan pelatihan terhadap deklarasi Kampung Proklim. Kampung proklim lebih fokus ke lingkungan, jadi pengolahan limbah sampah itu sangat diperlukan menuju kampung proklim yang sudah dideklarasikan.

“Kedepannya kami berharap masyarakat yang ada di sekitar Kampung Proklim bisa memanfaatkan limbah menjadi olahan yang lebih berguna. Jadi lebih menitikberatkan bahwa kita menyelamatkan lingkungan dari bawah,” terangnya.

Peserta yang terlibat dalam kegiatan pelatihan tersebut semuanya adalah perempuan yang terdiri dari karang taruna, UMKM, Kampung Prima, Kampung Preneur, dan Ibu-ibu rumah tangga. Pada pelatihan pengolahan sampah kali ini diikuti oleh 25 peserta yang merupakan warga Kalurahan Wonokerto.

Titin selaku pemateri merupakan mantan Fasilitator dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK). Pengolahan sampah yang dimaksud adalah memanfaatkan sampah plastik yang berasal dari bungkus makanan, botol bekas, minuman, bungkus detergen dan lain-lain untuk diolah menjadi kerajinan yang memiliki nilai jual.

Pengolahan sampah kampung proklim
Pengolahan sampah dengan memanfaatkan sampah plastik

Adapun produk yang dihasilkan dari pengolahan sampah ini berupa kerajinan seperti kipas, keranjang, tas, tatakan alat makan, peniti bros dan lain-lain. “Masyarakat dapat meminimalisir sampah yang ada di rumah dengan cara mengolahnya menjadi suatu produk sehingga sampah bukan menjadi masalah yang perlu dibawa keluar rumah,” tutur Titin.

Selain pelatihan pengolahan sampah juga diselenggarakan pelatihan ecoprint yang diisi oleh Ira Fatma dengan jumlah 20 peserta pelatihan. Peserta yang mengikuti pelatihan merupakan warga Wonokerto, baik yang sudah memiliki UMKM maupun yang belum. Ira Fatma menyampaikan terdapat tiga teknik dalam membuat ecoprint, yaitu folding (dipukul), steam (kukus) dan boiling (rebus). Pada pelatihan ecoprint dalam rangka memeriahkan kegiatan Deklarasi Proklim Kampung Pramuka Sangurejo teknik yang diajarkan adalah teknik steam atau kukus.

”Teknik ini dipilih dengan asumsi setiap rumah memiliki alat kukus. Walaupun tidak menutup kemungkinan teknik lain juga mudah dalam hal alat, namun teknik kukus ini memerlukan bimbingan yang lebih intensif dari orang yang berpengalaman,” ujar Ira Fatma ketika ditanya alasan memilih teknik ini.

Pengolahan sampah kampung proklim
Kreasi ecoprint dari sumber daya alam seperti daun dan bunga.

Ia berharap setelah mengikuti pelatihan ini para peserta dapat memanfaatkan keanekaragaman sumberdaya alam yang ada, seperti daun, bunga dan lain sebagainya untuk dikreasikan. Pada penghujung pelatihan ia berpesan, “Eksplorasilah lingkunganmu tanpa harus  merusak. Bijaklah dalam menggunakan tanaman, aneka bahan treatment dan warna alam.” pungkasnya.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *