jogjakeren.com – Promovendus Ari Nurwijayanto SHut MSc melakukan penelitian di Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) dalam rangka menyelesaikan Program Studi Doktor Ilmu Kehutanan (PSDIK). Ari menginventarisasi 160 jenis tumbuhan bawah di dalam zona pemanfaatan dan zona religi TNGM. Serta menguji kandungan antioksidannya, semuanya Ari lakukan selama ±4,5 tahun.
Ari juga mengumpulkan data etnofarmakologi sebagai data pendukung bahwa tumbuhan tersebut telah lama dimanfaatkan oleh masyarakat di sekitar TNGM. Data tersebut didapatnya melalui wawancara dengan 29 responden.
Dari 160 jenis tumbuhan yang diinventarisasi, terdapat 75 jenis tumbuhan bawah TNGM memiliki potensi antioksidan. Bahkan digadang-gadang dapat meningkatkan daya tahan tubuh untuk melawan Covid-19.
“Terdapat 75 jenis tumbuhan bawah yang memiliki antioksidan dengan daya tangkal radikal bebas (DPPH) tertinggi. Adalah harendong bulu (Clidemia hirta) dan senggani (Melastoma candidum),” papar Ari.
Manfaat Clidemia hirta
Selain buku Katalog Antioksidan Tumbuhan Bawah Gunung Merapi, Ari juga menghasilkan 6 produk kapsul, jelly dan gel dari tumbuhan bawah Clidemia hirta.
“Kapsul ekstrak dan kapsul minyak Clidemia hirta ini sudah diproduksi dan dipasarkan, hampir 1000 kapsul dan telah diterima pasar guna daya tangkal Covid-19. Selain itu, ada produk antioksidan yang menyasar segmen anak-anak berupa boba jelly karena biasanya anak-anak tidak menyukai kapsul. Bagi segmen kecantikan tersedia serum wajah C. hirta untuk menghilangkan kerutan dan flek, serta gel rambut bagi anak muda agar rambut tumbuh rapi, subur dan keren,” ungkap Ari.
Penelitian dilaksanakan dibawah bimbingan promotor dan co-promotor Prof Dr Ir Mohammad Na’iem MAgr Sc, Prof Dr Subagus Wahyuono MSc Apt dan Atus Syahbudin SHut MAgr PhD.
Ujian tertutup daring
Hasil penelitian di taman nasional ini diharapkan dapat mendorong masyarakat semakin menyadari akan kegunaan tumbuhan di sekitarnya. Serta diharapkan mampu memproduksi secara mandiri. Dengan demikian, produktivitas ekonomi masyarakat dapat semakin meningkat. Bagi TNGM, produk-produk antioksidan tersebut menjadi oleh-oleh khas dari Gunung Merapi.
Pemaparan hasil penelitian tersebut dipresentasikan dalam ujian tertutup PSDIK Fakultas Kehutanan UGM secara daring yang baru pertama kali diselenggarakan, Rabu (1/7/2020).

Di hadapan Sekretaris Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Dr Ir Bambang Hendroyono MM IPU. Dekan Dr Budiadi SHut MSc, Kaprodi PSDIK Prof Dr Ir Suryo Hardiwinoto MAgr. Ia mempresentasikan Disertasi dengan judul ”Potensi Tumbuhan Bawah Kawasan Hutan Taman Nasional Gunung Merapi sebagai Penangkal Radikal Bebas 2,2-DifenilI -Pikrilhidrazin (DPPH)”.
Para penguji yang merupakan para ahli farmasi dan kehutanan Prof Dr Ir Suryo Hardiwinoto MAgr Sc, Dr Ir Dwi Tyaningsih Adriyanti MP. Rini Pujiarti SHut MAgr PhD, Ines Septi Arsiningtyas SFarm MSc PhD Apt terlihat puas dengan hasil ujian tertutup ini.





