Jogjakeren – Tim Teknologi Tepat Guna (TTG) UGM yang diketuai Atus Syahbudin, S.Hut., M.Agr., Ph.D. dari Fakultas Kehutanan menggelar pelatihan Teknologi Ember Tumpuk di Dusun Duren, Desa Jaten, Kecamatan Jogorogo, Ngawi, Minggu (25/10/2020). Hadir sebagai pembicara Nasih Widya Yuwono, S.P., M.P. dari Fakultas Pertanian, dibantu Ridla Arifriana, S.Hut., M.Sc. dari Sekolah Vokasi, dan Zulfa Parulian Alzuhdy dari Fakultas Pertanian.
Pelatihan ini dilaksanakan dalam rangka meningkatkan produksi hasil pertanian sekaligus mendukung desa wisata di lereng Gunung Lawu. Dalam sambutannya, Atus mengungkapkan keinginannya agar Dusun Duren mampu terus berkembang menjadi sentra percontohan Pupuk Organik Cair (POC), kerajinan bambu, madu hutan, bunga telang, dan hutan rakyat.
“Upaya ini akan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan dan menurunkan ketergantungannya terhadap hutan sebagai sumber pangan dan kayu bakar,” kata Atus.
“Suatu hari nanti keberadaan POC, kerajinan bambu, madu hutan, bunga telang, dan hutan rakyat yang dirintis di Desa Jaten ini dapat menjadi alternatif penghasilan dari desa wisata. Senang rasanya bila masyarakat turut menjaga dan melindungi hutan karena berkait erat dengan sumber penghasilan mereka. Hutan pegunungan pun secara alami dapat memulihkan ekosistemnya sebagai sumber air, udara sejuk, lanskap, dan pelestarian flora dan fauna,” harap Atus yang sudah menginisiasi berbagai solusi kegiatan ekonomi bagi masyarakat di sekitar hutan Gunung Lawu sejak 2014.
Mengawali pelatihan, Kepala Dusun Duren, Triono mengucapkan terima kasih atas program KKN-PPM UGM Juni-Agustus lalu dan mengharapkan adanya program lain untuk melancarkan produksi pertanian di Desa Jaten.
“Masyarakat Jaten itu majemuk dan 90%-nya adalah petani. Untuk itu, saya ingin mendapatkan program lagi agar produksi pertanian lancar sehingga bisa mengangkat kesejahteraan petani. Selain petani, masyarakat di sini juga beternak, perajin bambu, dan menghasilkan madu hutan,” ungkap Triono.
Pelatihan Teknologi Ember Tumpuk
Di Desa Jaten, hutan rakyat memenuhi desa dengan jenis pohon jati, mahoni, cengkih, pete, rambutan, durian, jambu air, bambu, dan lain-lain. Selain itu sebagian besar masyarakat desa di lereng utara Gunung Lawu ini bermata pencaharian sebagai petani. Tidak heran sampah organik rumah tangga seperti buah dan sayur di Desa Jaten ini tersedia melimpah.

Pada pelatihan teknologi ember tumpuk, sekitar 30 warga masyarakat yang sebagian besar merupakan anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Citrun Jaya berpartisipasi dengan penuh antusias.
Nasih sebagai pembicara, menginisiasi teknologi ember tumpuk sejak 2018. Teknologi ini menyatukan 2 buah ember dengan bantuan larva lalat tentara hitam atau larva Hi (Hermetia illucens).
“Ember bawah merupakan penyangga ember atas dan mempunyai kran di samping bawah, sekitar 5 cm dari dasar. Ember bagian bawah akan mewadahi lindi yang akan menjadi POC. Adapun ember atas untuk memasukan sampah organik. Pada bagian bawahnya diberi lubang sebanyak 150-an lubang berdiameter 5 mm. Di samping atas ember tetapi masih di bawah tutup juga diberi 4 buah lubang guna perputaran udara dan lubang masuk larva muda yang menetas,” jelas Nasih sambil mempraktekkan membuat lubang-lubang kecil dengan boor di tangannya.
Para wanita tanipun banyak bertanya mengenai tempat meletakan ember tumpuk, jenis sampah yang boleh dimasukkan ke dalam ember, lama waktu panen POC, cara agar POC tidak berbau, dll.
Di beberapa rumah lainnya, teknologi ember tumpuk sudah mulai diterapkan sebagaimana yang dialami oleh Sarsam Wahyudi. Selain terampil membuat ember tumpuk sendiri, Sarsam menempatkan 1 ember di belakang rumahnya, di tempat terbuka yang berdampingan dengan instalasi biogas bantuan Dinas Lingkungan Hidup Ngawi. Nampak lalat tentara hitam (H. illucens) beterbangan di sekitar ember tumpuk.
“Saya bangga dan senang menerima bantuan ember tumpuk ini sehingga banyak belajar bagaimana cara membuat ember tumpuk dan POC. Saya juga baru tahu kalau lalat tentara hitam itu bermanfaat buat masyarakat,” ungkap Sarsam saat menunjukkan ember tumpuk di halaman belakang rumahnya.

Pada kesempatan itu, sekitar 30 ember tumpuk diserahterimakan oleh Atus selaku Ketua Tim TTG UGM kepada Kepala Dusun Duren, Triono, untuk ditempatkan di setiap rumah anggota KWT.





